|
—untuk Abdulkarim dan grup pengajian
al-Isytirakhiyyah “I am nothing and I
should be everything” —Karl Marx pada pengantar 'Contribution to
the critique of Hegel’s philosophy of
law’ Sudah Juli lagi. Dua tahun yang lalu ada
sebuah celah di ingatan saya ketika berkenalan dengan seorang kawan baru yang
dengan sedikit basa-basi saya ingin pinjam buku-buku milik Situationist International-nya. Buku yang saat itu sama sekali saya
belum benar-benar tahu apa isinya selain informasi dan review-review hebat atas
buku ini yang membuat penasaran. Review buku yang begitu canggihnya sampai saya
merasa akan sungguh paham akan dunia ketika selesai membacanya. Begitulah.
Permintaan yang pada kesempatan pertama langsung ditolak oleh sang empu pemilik
buku. Mengecewakan pastinya, terutama untuk orang yang baru saja berkenalan.
Saya hanya sedikit riang dipinjami dua buku lainnya. Diperjalanan pulang saya
juga memikirkan penyebabnya, sang kenalan baru ini beralasan bahwa buku-buku
itu banyak memakai konsep-konsep marxis, sesuatu yang dengan tanpa bertanya dia
anggap kurang saya pahami. Saya juga tidak bisa membantah, saya memang kurang
akrab dengan Marx, kurang cukup keren sebenarnya. Pengalaman terakhir saya
membaca Marx berakhir buruk. Saya mendapat buku
berjudul Brumaire XVII Louis
Bonaparte dengan kualitas terjemahan sungguh jelek yang langsung membuat
saya menyerah pada kesempatan pertama. Menyerah meninggalkan beberapa teman
saya yang justru sedang giat-giatnya membaca Marx lewat buku Franz
Magnis-Suseno yang sedang populer. Saya ingin membaca Marx, bukan Romo Magnis-Suseno
pikir saya waktu itu. Rasa-rasanya baru kemarin juga saya
akhirnya memutuskan berkenalan dengan Abdulkarim al-Isytirakhiyyah, seorang
bekas santri yang menurut sang kenalan baru akan banyak membantu dalam memahami
Marx. Saya setuju saja dengannya, demi mendapat pinjaman buku SI saya
meneguhkan hati. Berkenalan dan sedikit berbincang dengan sang santri. Biasa
saja, pada awalnya. **** Sudah Juli lagi. Beberapa hari yang lalu
pertemuan-pertemuan ini selesai sudah. Pertemuan yang secara tertulis hanya
terjadi sepuluh kali. Petualangan mega yang efeknya bisa sejauh ini.
Petualangan sepuluh pertemuan dengan memakan waktu lebih dari dua belas bulan. Saya
dan seorang teman yang lain mengakhirinya dengan cukup baik. Bukan akhir
sebenarnya, saya bahkan merasa belum memulai sama sekali. Buku tebal itu, juga
belum selesai saya tamatkan. Buku yang bolak-balik saya pinjam setelah
mendapati ternyata telah habis terjual. Al-Isytirakhiyyah juga, akan terus saya
tagih ikut dalam pengajian-pengajian lainnya. Bab I begitu sulit dilewati,
teori nilai kerja bahkan belum saya mengerti sama sekali. Sudah Juli lagi, kini saya kembali
mengingat janji untuk membaca SI, janji yang entah kapan akan saya tepati. Sudah Juli lagi. grup pengajian ini sejak
awal tidak menawarkan banyak. Saya juga tidak mendapat banyak. Mereka hanya
memberi satu hal yang dengan teramat dalam mereka tanamkan. Bukan, ini juga
bukan pengetahuan para intelektual yang hanya didapat dari buku dan teks. Ini
adalah pengetahuan dalam darah yang kini sudah menemukan tulang dan
daging-dagingnya. Satu hal yang akhirnya saya paham. Bellum omnium contra capitalismus. Terimakasih, sudah buat saya
jadi manusia lagi |
| efrim menuck August 18, 2009 03:48 PM PDT heheh :D | ||
| crimethought August 14, 2009 04:31 AM PDT relaks... omnia mutantur nihil interit | ||
| Leave a Comment: |