|
Ada tawaran menarik malam ini. Seorang warga lokal
mengajak beberapa orang dari rombongan untuk melihat-lihat ritual rutin warga
sekitar di sebuah gua yang letaknya di dalam hutan lindung sebelah utara
pangandaran. Kebetulan, malam ini adalah hari kamis malam jum’at kliwon dalam
penanggalan Jawa. Hari seperti ini adalah hari yang diyakini merupakan
malam-malam “spesial” bagi kebanyakan penduduk pulau Jawa. Malam keramat
sebutannya. Saya tidak pernah begitu tahu detailnya, yang saya tahu dari dulu
hanya bahwa malam-malam seperti ini merupakan malam-malam yang kuat aura
mistiknya, mistik dalam artian adanya kekuatan-kekuatan lain di luar dunia
materiil yang menampakkan dirinya dan punya pengaruh kuat terhadap apa yang
berjalan di dunia materiil dan dengan demikian perlu dilakukan ritual untuk
menyelaraskannya dengan keinginan manusia. Mungkin saya salah, entahlah, saya
juga tidak pernah membaca dan mempelajari satupun teks-teks yang berkaitan
dengan hal itu. Yang saya paham dari dulu cuma satu, yaitu bagaimana
pengglorifikasian dari hal-hal gaib seperti itu masih ada di sekitar saya dan
seringkali berujung dengan kekesalan saya. Tempat yang dituju adalah sebuah gua yang berada di dalam
hutan cagar alam sebelah utara pengandaran. Menurut sang warga, di malam jum’at
kliwon seperti ini akan dilakukan ritual oleh seorang dukun yang sudah kerasukan
roh gaib dengan cara memanggil arwah leluhur di gua tersebut. Setelah ritual
tersebut, nantinya siapapun yang masuk ke dalam gua yang dipenuhi air tawar
sebatas dada itu dan menemukan batu di ujung gua, akan dikabulkan permintaannya
dalam bentuk apapun. Cukup menyeramkan tentunya, berbekal cerita—adanya bau
sirih secara tiba-tiba ketika seorang teman yang memakai baju hijau (warna
terlarang di pantai pangandaran) saat berfoto mendekati laut—pada siang
harinya, ditambah dengan hari yang sudah begitu gelap cukup bisa membuat nyali
saya, Giyas, dan Lintang cukup ciut. Sepengamatan saya kami bertiga memang
bukan orang yang bisa takut dengan hal seperti ini, kami bertiga jelas-jelas
lebih takut dengan preman-preman terminal yang berbadan besar dengan mulut
berbau minuman keras cap “intisari”. Tapi memang suasananya malam ini terbangun
demikian, ditambah beberapa perempuan lainnya yang bersikeras ikut meskipun
takut, maka perjalanan horror kami malam ini dimulai. Sepanjang perjalanan
melewati hutan cagar alam yang gelap gulita keadaan rombongan berubah total,
kebanyakan berpegangan tangan satu sama lain, sedekat mungkin dengan yang lain,
dan mulai menjaga omongan. Untuk menenangkan diri saya berusaha tetap bercanda
dengan Giyas, menertawakan sendiri teman serombongan, dan menduga-duga
bagaimana rupa sang mahkluk gaib nantinya dengan refrensi dari
tayangan-tayangan mistik yang sempat ramai di TV beberapa tahun belakang. Salah
satu dosen yang ikut bahkan sampai mengingatkan kepada rombongan untuk tidak
berkata sompral. Yang cukup mengagetkan saya malah seorang ucapan teman yang
menegur saya; “ih, jaga omongan, saya aja sampai gak berani ngomong gitu”. Begitu
saya mulai dianggap keterlaluan dan melecehkan “penghuni” hutan ini. Hal yang
aneh bagi saya karena selama ini dia dikenal sebagai seorang yang begitu gemar
membaca ratusan buku filsafat dan cukup ahli dalam bidang teoritis feminisme
dan post-modernisme. Kemana larinya semua rasionalitas ala filsuf pencerahan
yang sering dia umbar? yah, seharusnya saya tidak terlalu terkejut semenjak
seorang revolusioner tua dulu pernah berkata bahwa para filsuf memang paling
ahli dalam menafsirkan dunia tapi tidak berbuat apapun untuk mengubahnya. Sampai di lokasi keadaannya
agak aneh. Tidak ada ritual mistik, tidak ada dukun yang kerasukan roh, dan tidak
ada bau dupa atau kemenyan. Yang ada hanya penjual jajanan seperti rokok,
kacang, dan kopi, wartawan yang membawa kamera SLR dengan lensa super panjang,
pria paruh baya yang “mencari jodoh” sambil duduk-duduk di tikar yang sudah
disediakan, beberapa PSK yang mencari penglaris dan puluhan anak muda bermotor
yang mengantri untuk ikut masuk ke dalam Gua. Saya sempat kaget ketika Giyas
dan seorang lagi dari rombongan bahkan benar-benar masuk ke dalam gua setelah
melepas baju. Semua orang was-was menunggu mereka berdua keluar. Tidak sabar
mendengar pengalaman gaib yang mereka dapatkan didalam. Setelah sekitar 10
menit, mereka berdua keluar. Disambut bak pahlawan giyas langsung bercerita: “busyet, gelap banget didalam, batu guanya tajam-tajam.
Gak sampe ujung gua, gelap gitu, trus airnya tambah dalam. Yang jelas ngga ada
apa-apa, anak-anak yang di dalam malah becanda-candaan, maenan. Mana mulut
mereka bau anggur semua lagi. Kecewa gua” Saya hanya tersenyum kecil. Semua orang hanya terdiam dan
tidak lama kemudian memutuskan pulang, kali ini dengan suasana yang lebih
ceria. Tidak ada setan, genderuwo, pocong atau yang lainnya. Entahlah, mungkin
saya kurang beruntung. Tapi yang jelas saya sedikit senang karena sehabis ini
tidak akan ada lagi cerita-cerita pathetic tentang hal-hal tidak penting seperti tadi
siang sepanjang sisa liburan ini yang seharusnya menyenangkan. Diluar ini semua, faktanya saya bukannya tidak suka
dengan ritual-ritual mistis yang dipercayai oleh warga sekitar. Bagi saya dari
sisi asalinya hal-hal itu malah merupakan salah satu cara bagaimana mereka
menjaga relasi-relasi mereka dengan alam. Hal itu merupakan warisan lampau di
mana manusia masih hormat kepada alam dan membina sebuah hubungan yang harmonis
dengannya. Yang jadi masalah bagi saya adalah bagaimana hal-hal tersebut kini
sering diglorifikasi oleh orang-orang perkotaan dan mengaitkannya dengan hidup
harian yang sama sekali tidak ada hubungannya dan juga seperti segala sesuatu
di sistem ini; diubah menjadi komoditi. Anyway seperti
jawaban saya semenjak awal kepada seorang teman yang bertanya apakah saya
percaya atau tidak hal-hal gaib seperti ini, setelah malam ini jawaban saya
tetap sama: “gua jelas-jelas ngga bisa ngebuktiin kalo hal gituan
ada, tapi gua juga ngga bisa ngebuktiin kalo hal kayak gitu beneran ngga ada
juga. Gua cuma ngga peduli kok. Lagian yang kayak ginian dari dulu emang ngga
ada kaitannya sama idup kita tiap harinya kan? .” Cagar
Alam Pangandaran, 22 Mei 2009/Pkl.01.25 |
| Leave a Comment: |