Entry: Tengah – materialisme historis harian Monday, June 01, 2009



Ada tawaran menarik malam ini. Seorang warga lokal mengajak beberapa orang dari rombongan untuk melihat-lihat ritual rutin warga sekitar di sebuah gua yang letaknya di dalam hutan lindung sebelah utara pangandaran. Kebetulan, malam ini adalah hari kamis malam jum’at kliwon dalam penanggalan Jawa. Hari seperti ini adalah hari yang diyakini merupakan malam-malam “spesial” bagi kebanyakan penduduk pulau Jawa. Malam keramat sebutannya. Saya tidak pernah begitu tahu detailnya, yang saya tahu dari dulu hanya bahwa malam-malam seperti ini merupakan malam-malam yang kuat aura mistiknya, mistik dalam artian adanya kekuatan-kekuatan lain di luar dunia materiil yang menampakkan dirinya dan punya pengaruh kuat terhadap apa yang berjalan di dunia materiil dan dengan demikian perlu dilakukan ritual untuk menyelaraskannya dengan keinginan manusia. Mungkin saya salah, entahlah, saya juga tidak pernah membaca dan mempelajari satupun teks-teks yang berkaitan dengan hal itu. Yang saya paham dari dulu cuma satu, yaitu bagaimana pengglorifikasian dari hal-hal gaib seperti itu masih ada di sekitar saya dan seringkali berujung dengan kekesalan saya.

Tempat yang dituju adalah sebuah gua yang berada di dalam hutan cagar alam sebelah utara pengandaran. Menurut sang warga, di malam jum’at kliwon seperti ini akan dilakukan ritual oleh seorang dukun yang sudah kerasukan roh gaib dengan cara memanggil arwah leluhur di gua tersebut. Setelah ritual tersebut, nantinya siapapun yang masuk ke dalam gua yang dipenuhi air tawar sebatas dada itu dan menemukan batu di ujung gua, akan dikabulkan permintaannya dalam bentuk apapun. Cukup menyeramkan tentunya, berbekal cerita—adanya bau sirih secara tiba-tiba ketika seorang teman yang memakai baju hijau (warna terlarang di pantai pangandaran) saat berfoto mendekati laut—pada siang harinya, ditambah dengan hari yang sudah begitu gelap cukup bisa membuat nyali saya, Giyas, dan Lintang cukup ciut. Sepengamatan saya kami bertiga memang bukan orang yang bisa takut dengan hal seperti ini, kami bertiga jelas-jelas lebih takut dengan preman-preman terminal yang berbadan besar dengan mulut berbau minuman keras cap “intisari”. Tapi memang suasananya malam ini terbangun demikian, ditambah beberapa perempuan lainnya yang bersikeras ikut meskipun takut, maka perjalanan horror kami malam ini dimulai.

Sepanjang perjalanan melewati hutan cagar alam yang gelap gulita keadaan rombongan berubah total, kebanyakan berpegangan tangan satu sama lain, sedekat mungkin dengan yang lain, dan mulai menjaga omongan. Untuk menenangkan diri saya berusaha tetap bercanda dengan Giyas, menertawakan sendiri teman serombongan, dan menduga-duga bagaimana rupa sang mahkluk gaib nantinya dengan refrensi dari tayangan-tayangan mistik yang sempat ramai di TV beberapa tahun belakang. Salah satu dosen yang ikut bahkan sampai mengingatkan kepada rombongan untuk tidak berkata sompral. Yang cukup mengagetkan saya malah seorang ucapan teman yang menegur saya; “ih, jaga omongan, saya aja sampai gak berani ngomong gitu”. Begitu saya mulai dianggap keterlaluan dan melecehkan “penghuni” hutan ini. Hal yang aneh bagi saya karena selama ini dia dikenal sebagai seorang yang begitu gemar membaca ratusan buku filsafat dan cukup ahli dalam bidang teoritis feminisme dan post-modernisme. Kemana larinya semua rasionalitas ala filsuf pencerahan yang sering dia umbar? yah, seharusnya saya tidak terlalu terkejut semenjak seorang revolusioner tua dulu pernah berkata bahwa para filsuf memang paling ahli dalam menafsirkan dunia tapi tidak berbuat apapun untuk mengubahnya.

 

Sampai di lokasi keadaannya agak aneh. Tidak ada ritual mistik, tidak ada dukun yang kerasukan roh, dan tidak ada bau dupa atau kemenyan. Yang ada hanya penjual jajanan seperti rokok, kacang, dan kopi, wartawan yang membawa kamera SLR dengan lensa super panjang, pria paruh baya yang “mencari jodoh” sambil duduk-duduk di tikar yang sudah disediakan, beberapa PSK yang mencari penglaris dan puluhan anak muda bermotor yang mengantri untuk ikut masuk ke dalam Gua. Saya sempat kaget ketika Giyas dan seorang lagi dari rombongan bahkan benar-benar masuk ke dalam gua setelah melepas baju. Semua orang was-was menunggu mereka berdua keluar. Tidak sabar mendengar pengalaman gaib yang mereka dapatkan didalam. Setelah sekitar 10 menit, mereka berdua keluar. Disambut bak pahlawan giyas langsung bercerita:

 

“busyet, gelap banget didalam, batu guanya tajam-tajam. Gak sampe ujung gua, gelap gitu, trus airnya tambah dalam. Yang jelas ngga ada apa-apa, anak-anak yang di dalam malah becanda-candaan, maenan. Mana mulut mereka bau anggur semua lagi. Kecewa gua”

Saya hanya tersenyum kecil. Semua orang hanya terdiam dan tidak lama kemudian memutuskan pulang, kali ini dengan suasana yang lebih ceria. Tidak ada setan, genderuwo, pocong atau yang lainnya. Entahlah, mungkin saya kurang beruntung. Tapi yang jelas saya sedikit senang karena sehabis ini tidak akan ada lagi cerita-cerita pathetic  tentang hal-hal tidak penting seperti tadi siang sepanjang sisa liburan ini yang seharusnya menyenangkan.

Diluar ini semua, faktanya saya bukannya tidak suka dengan ritual-ritual mistis yang dipercayai oleh warga sekitar. Bagi saya dari sisi asalinya hal-hal itu malah merupakan salah satu cara bagaimana mereka menjaga relasi-relasi mereka dengan alam. Hal itu merupakan warisan lampau di mana manusia masih hormat kepada alam dan membina sebuah hubungan yang harmonis dengannya. Yang jadi masalah bagi saya adalah bagaimana hal-hal tersebut kini sering diglorifikasi oleh orang-orang perkotaan dan mengaitkannya dengan hidup harian yang sama sekali tidak ada hubungannya dan juga seperti segala sesuatu di sistem ini; diubah menjadi komoditi.

Anyway seperti jawaban saya semenjak awal kepada seorang teman yang bertanya apakah saya percaya atau tidak hal-hal gaib seperti ini, setelah malam ini jawaban saya tetap sama:

“gua jelas-jelas ngga bisa ngebuktiin kalo hal gituan ada, tapi gua juga ngga bisa ngebuktiin kalo hal kayak gitu beneran ngga ada juga. Gua cuma ngga peduli kok. Lagian yang kayak ginian dari dulu emang ngga ada kaitannya sama idup kita tiap harinya kan? .”

Cagar Alam Pangandaran, 22 Mei 2009/Pkl.01.25

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments