Kita berdua sama-sama tahu, tidak pernah ada hari jadi dalam perjalanan kebersamaan kita. Hari jadi itu diciptakan kemudian, atas pertimbangan malam itu, ketika aku membuatmu urung pulang, menawarimu rerumputan aroma surga, menikmati gigil dingin di tempat yang sama sekali tidak semestinya, dimana kita akan menjadi sinetron jika saat itu mataharilah yang ada di tempat rembulan. Gelap mulai menghalau matahari surut ke barat. Engkau masih duduk diujung pangkuanku, sesekali menoleh saat ada langkah kaki di belakang, seperti menunggu, namun tak juga henti menanti. Dan tunggu itu membuatku cemas akan berujung pada buntu yang itu-itu juga. Yang tiga hari ini telah kusaksikan.
Tapi tiga hari ini aku telah jelas tahu siapa dirimu. Bentuk punggungmu, aroma parfummu, caramu berjalan, kulit halusmu, dan cemas yang satu dua kilas tertukas saat engkau mulai duduk diujung jendela, pukul empat belas sampai sembilan belas. Aku masih sibuk mencari salam pembuka yang tepat untuk memulai percakapan denganmu saat engkau tiba-tiba lewat dan kembali menarik perhatianku dengan ingatanku tentang beberapa kawan yang selalu memuji keindahanmu. Tak perlu Shekesphere untuk menjabarkan betapa romantisnya diriku ketika berada di hadapanmu, tak perduli dengan dunia dan setumpuk payungan moral ketika aku bergumul denganmu.
Bukan, ini bukan tentang perjalanan cinta yang hanya tahu akan arti bahagia. Kau pasti tahu, akhir-akhir ini aku begitu tak nyaman dengan diriku. Paranoia dan histeria, cemas dan tangis. Keluhan dan ribuan peluh telah jatuh. Aku ingin percaya bahwa aku bisa bahagia, dan dirimu dengan cahaya sayap Jibril di punggungmu telah meyakinkanku. Kau buat diriku tenang ketika aku marah kepada dunia, kau mengantarkan sebaris irama luluh ketika aku berteriak: " Kapan ada kuasa yang lelah menagih darah?", sungguh ku berharap jadi ampas api neraka bagi mereka yang berani merebut dirimu dariku.
Semoga kau akan terus ingat dengan tapak-tapak bagian tubuhku yang membekas di badanmu, semoga kain tipis yang menjadi pelapis diantara kita berdua selama ini bisa kita singkirkan. Ketika suara dan kata terlalu miskin untuk mendongengkan perjalanan kita kepada dunia, ketika dunia menjadi buta karena cinta.
Maka, hanya inilah yang dapat kupersembahkan kepadamu, duhai sepatu Vans kesayanganku….
Sebulan yang lalu saya ke pameran buku
yang diadakan di Landmark Braga Convention Hall. Saya emang udah agak lama ngga
ke pameran-pameran model ginian, terutama pameran buku. Semenjak pameran buku
terakhir yang saya datangin cukup mengecewakan, karena tidak satupun buku
incaran yang saya dapatkan, alasannya menyebalkan; semua stan penerbit yang ada
di situ hanya menjual buku-buku bertemakan agama. Yeah…saya memang suka
tulisannya M.Iqbal & Karen Armstrong, tapi satu stan penuh dengan buku
Harun Yahya dan sebangsanya..? bunch of
goddamn asshole. Harapan saya pameran yang saya datangin kali ini ngga
seburuk yang terakhir. Ya seenggaknya saya bisa cuci mata ngeliat cewe-cewe nerd berkacamata besar itu berkeliaran
di sana nanti.
Saya datang hari minggu, wah kayaknya
saya agak salah milih hari ini buat pergi ke sebuah pameran. Baru nyampe di
depan pintu pameran, saya udah ngeliat segerombolan orang persis kaya orang
yang ngantri BBM. Shit. Tapi sudahlah saya sudah terlanjur ada disini, lanjut
brad. Tepat di pintu gerbang ada stan dari penerbit Yayasan Obor Indonesia (YOI),
awal yang bagus ujar saya dalam hati. YOI dikenal dengan reputasinya yang
menerbitkan buku Charles Darwin The
Origin of Species dengan terjemahan yang sangat sangat baik. Kelemahannya
mereka dari dulu cuma satu; desain kover yang buruk. Menurut pendapat
teman-teman saya, sepertinya YOI ini diisi oleh tipikal Intelektual-intelektual
yang mentingin konten tapi lupa pentingnya kover yang enak dilihat. Tipikal
ilmuwan kelas berat yang ngga ngerti/peduli sama tampilan luar. Kirain, buku
ini udah lama abis, soalnya terakhir saya beli kalo ngga salah tahun 2007. Itu
juga dengan perjuangan yang gila-gilaan. Eh, ternyata di stan ini buku itu
masih nongol plus diskon sekitar 20%. Asik kan? Selain Darwin, saya juga sempet
liat bukunya pak Foucault dan pak Camus. Yah, mereka semua saya lewatkan dulu,
karena kalo luarnya aja begini pasti didalam lebih bagus-bagus lagi kan?
Tapi gitu nyampe di dalam ekspetasi saya
mulai luntur. Di kiri-kanan saya berjejer nama penerbit yang asing bagi saya,
dengan nama yang juga mencurigakan; al-iqra,
mukhtadzin, penerbit insani, qalam, dan lain-lain sebagainya. Ditambah
dengan banyaknya perempuan-perempuan berjilbab fullface plus bapak-bapak berjenggot-celana ngatung-sendal ban-dan
tanda hitam di jidat. Semangat saya hilang sekejap. Mana cewe-cewe kacamata
besar itu? Pengalaman buruk di pameran terakhir terancam terulang lagi. Sial.
Akhirnya saya tetap menabahkan hati untuk sedikit berkeliling dan melihat-lihat
semoga ada beberapa stan yang rada nge-pop.
Usaha saya hampir menyebalkan kalo saja
saya tidak menemukan beberapa stan yang akhirnya bisa saya kunjungi plus
ngeliat-ngeliat dikit deretan bukunya. Yang pertama ada Insist. Penerbit dari
jogja, Mansour Fakih crew. Gila mereka jual buku murah banget disini. Banyangin
ada buku yang dijual dengan harga 5 ribu-10 ribu rupiah. Seperti biasa tapi,
buku yang diobral murah disini adalah buku-buku yang emang nyampah. Hehe..tapi sekedaran bocoran ada bukunya Phutut EA juga
loh disitu….ngga terlalu menarik sebenarnya, karena insist cuma dikit bawa buku
mereka dan itu juga yang ngga laku-laku itu. Dari Insist tepat dua blok di
sebelahnya ada stan dari Jalasutra, penerbit Jogja juga. Nah, disini baru saya
agak-agak kegirangan. Jalasutra bawa banyak buku plus koleksi buku lama mereka
yang belum terjual yang udah susah dicari di toko buku biasa. Gosip dari temen
saya yang bilang Fight Club, novel
karya dari Chuck Palahniuk ada disini ternyata benar. Dan tebak harganya:
Rp.12.000 !!! langsung buku itu saya taruh di kasir, kalau di ingat-ingat, saya
emang selalu terlambat dalam hal pernovelan. Padahal Filmnya sudah saya tonton
dari tahun 2006 silam. Selain Fight club
ada beberapa buku yang menarik perhatian disini. ada bukunya M.Iqbal, pak
Fritjop Capra, dan ohiya, ada bukunya Gabriel Garcia Marques juga loh, sisanya
standar buku cultural studies yang
kayaknya jadi fokus Jalasutra(dosen saya bahkan bukunya gagal diterbitkan oleh
Jalasutra dengan alasan mereka akan semakin focus ke cultural studies di tahun 2009 ini) banyak feminisme-feminisme
gitulah, dan pastinya ada juga bukunya si tokoh posmo Indonesia, pak Yasraf A.
Pilliang. Yang dari dulu saya heran selalu memakai judul yang aneh-aneh dan
terdengar Intelektual nan futuristik kayak Hiper-semiotika, hiper-realitas,
Dunia yang dilipat, Transpolitika, Multiplisitas dan lain sebagainya. Padahal
isinya biasa banget, maparinnya sih jago, tapi solusinya ngga banget nih orang.
Akhirnya saya nambah satu buku lagi, bukunya pak Louis althusser seorang
Marxis-strukturalis prancis, terjemahan dari essays on ideologies. buku bagus dengan harga murah. Dari Jalasutra
saya keliling-keliling lagi, kayaknya ngga ada yang bagus lagi, kecuali ada
satu stan yang isinya komik Indonesia jaman dulu kayak labah-labah merah, si buta dari goa hantu, wiro sableng, gundala putera
petir dll, yang sempet menarik perhatian saya, ada beberapa komik DC juga
sih disini.
Kalau diperhatiin keadaan disini emang
rame banget, awalnya saya sempat was-was karna takut banyak copet yang
berkeliaran disini, tapi melihat mayoritas pengunjung yang datang yang berwajah
solehah, hati saya sedikit tenang. Lagian sapa coba yang mau nyopet ponsel
saya, Nokia 3315 yang kata orang selain bisa buat nelpon dan sms juga bisa buat
ngelempar anjing liar. Tepat sekitar 20 meter dari pintu keluar saya sempat mengecek
jam dari ponsel kesayangan ini; jam setengah 3, artinya saya harus segera ke
surapati. Ponsel saya kembalikan di kantong belakang tas. Ada mainan lain yang
menunggu. Tapi di dekat pintu keluar ternyata saya melihat ada tangga ke atas
dan yah ternyata di lantai dua juga ada stan buku. Awalnya saya ngga tertarik
sampai secara sekilas saya melihat seorang pemuda gondrong memakai kaos putih
bergambarkan logo hammer-sickle
berwarna merah. Wah, aya kemenis brad.
Penasaran aja mau liat dari deket dan heran orang itu berani banget make kaos
gituan di negara kita Indonesia raya ini. Saya akhirnya ngikutin dia dari
belakang. Sampai akhirnya dia berhenti di salah satu stan yang ternyata adalah
resist book. penerbit buku yang kekiri-kirian
kata temen saya, yang saya heran dari dulu ngga suka ama buku-buku mereka,
kecuali terakhir ini, resist nerbitin bukunya David Harvey seorang professor
antropologi marxist lulusan Cambridge. Bukunya bagus banget. Ngebahas neolib
dan restorasi kelas dengan analisa Marxian modern, keren ya? Sedangkan pemuda
yang tadi itu masih ngebelakangin saya, jadi saya masih tetap disitu karna
penasaran. Sialnya begitu dia noleh ke saya, dia udah nyembunyiin kaosnya
dibalik jaketnya yang seingat saya tadi ngga dirosletingin.Kecewa dan dikejar waktu saya akhirnya
beneran balik dan naek angkot di depan braga. Berakhir sudah pameran ini bagi
saya. Dadah.
[gitu
di angkot tapi saya kemudian bertanya-tanya: “apakah ada salah satu anggota fight Club di pameran buku itu, atau
sejak awal Tyler Durden sudah menguntit dari belakang, dan berencana
menggunakan ponsel butut saya sebagai detonator peledak gedung dari Project Mayhem-nya?Berentiin angkot – angkot berhenti – buka pintu depan – tas
dikedepanin – pengen liat buku yang tadi dibeli – terkejut – tiga rosleting
depan udah kebuka – dompet masih ada – ponsel telah tiada – kecewa – marah –
bingung – lega – masam tawa…]
Halo semua, meskipun agak terlambat saya tetep mau ngucapin selamat tahun baru 2009. Banyak gawean yang harus diselesaiin duluan, dan bikin saya ngga bisa nulis disini. Ada apa di tahun yang baru ini? Hmm…ga tau saya juga ga bisa memprediksi apa yang akan terjadi sama hidup saya. He..he… By the way…tepat setelah momen tahun baru kemaren saya iseng-iseng bikin kuisioner-kuisioner kecil-kecilan, hal ini tergerak tepat setelah pergantian malam tahun baru, ditengah kondisi yang setengah sadar, saya teringat akan sebuah obrolan, yang kemudian saya tindak lanjuti. Yaitu masalah tentang ramalan bangsa Maya tentang apa yang akan terjadi pada tahun 2012 nanti. Yah, setelah surfing-surfing di google saya mendapat beberapa informasi tentang apa sih ramalan bangsa Maya di tahun 2012 nanti. Okei, saya kasitau intinya: konon, bumi akan hancur, atau setidaknya manusia akan punah. Hehe…serem kan? Berangkat dari ramalan itu dan sebagai bentuk penghargaan atas ramalan bangsa Maya, saya tergerak untuk menanyakan beberapa orang yang saya kenal dari beragam latar belakang untuk dimintai jawabannya. Intinya dari berbagai hal itu saya tanyakan begini terhadap para responden;
1.apa yang pengen/bakal/harus lakukan dalam 3 tahun terakhir sebelum kiamat ini?
2."kalo kamu dikasi jin yang bisa ngabulin segala permintaan, cita-cita apa yg belum kesampean yg bakal kamu lakukan? "
Jawabannya bebas. Dan ini dia beberapa jawaban yang terkumpul:
Arise Silently – pekerja kantoran, mantan Leninis
Jawaban:
"keluar kerja, ngerampok orang-orang kaya, pergi ke luar negeri, nyatain cinta ma satu cewek di eropa sono, trus transfer dana ke anak saya+ibunya dan jalan-jalan di eropa. Saya cuman pengen nikmatin jalanan eropa."
The Bolang – Pekerja di pedalaman Kalimantan, vokalis sebuah band Hardcore/Punk
Jawaban:
"saya bakal ngomong ke keluarga saya mama, bapak, adik-adik ku kalo saya sayang banget sama mereka....itu yg gak pernah terlontar dari mulut saya selama ini".
Niki Nugraha – Model, mahasiswa antropologi unpad
Jawaban:
"Gw mau bunuh bush, kalo ngga detik-detik sebelum kehancuran dunia gw pengen ikut perang lawan Israel, kalo ngga gw pengen naek haji, baru deh enak. pengen nikah dulu denk"
Ratu Jamur – Mantan penyanyi dan artis cilik lenong bocah yang kini berusaha keras buat jadi seorang antropolog
Jawaban:
-Mabok sampe mati duluan sebelum kiamat.
-Pergi ke Paris terus foto dimakam Jim Morrison
-bikin bokap gue hidup lagi
-manggung bareng Alanis Morisette
Saratdusta – penggemar municipal waste yang lagi sering-seringnya dengerin band band indie pop berpretensi cutting edge.
Jawaban:
"1.a.mengunjungi Rejkavyik dan menculik Bjork untuk sekedar ngebir di tepi pantai
1.b.mencari batu merah delima biar bisa matahin teori-teori holistik absurd yang membuat sebel...
1.c menggali makam dan meminta seseorang mengkafani diriku, terus ditimbun, pura-puranya latihan ketemu ajal..dan menghadapi malaikat maut. itu pun kalau ada
2.a. minta menuhin kamar dengan seabrek merchandise/action figur wolverine dan buttercup
2.b. dikasi tongkat/wand yang bisa memusnahin orang hanya dengan satu sentuhan..sini kamu...
2.c. minta kondisi mabuk yang paling mabuk...."
Karl Karnadi – Kuliah di jurusan computer science, Karlsruhe jerman, seorang ateis yang vocal
Jawaban:
"Ngga ada, saya ngga percaya bakal kiamat, dan ngga mau jawab."
Syahmare – programmer computer
Jawaban:
"1. nyari cara supaya setelah/di tahun 2012 termasuk di 15% orang-orang yg selamat, biar bisa hidup terus, maklum masih muda euy,belum mau mati dulu, biar bisa jadi bagian dari manusia-manusia super yg punya kelebihan telepatik [kaya film serial HEROES & 4400].. lumayan kalau misalnya ramalan itu ternyata gak bener/tetep gak ada yang selamat setidaknya saya punya tujuan untuk 3 tahun ke depan mau ngapain….
nah utk jawaban no 2. jawabannya adalah: minta si jin itu supaya ngedukung jawaban saya di no 1. dan bisa keliling dunia nyinggahin tempat-tempat yang saya suka :)
Morpheus – soerang pekerja freelance, anarkis penyuka rage against the machine
yang pasti kalau saya ngerasain 2012, itu pengalaman yang paling juara lah.
kalo pertanyaan ke dua, ketemu jin: minta di balik ke jaman saat error nya manusia mulai ngdomestifikasi tumbuhan sama hewan
Prosan – scenester musik abnormal lokal, tinggal di Kalimantan
Jawaban:
1. Kita punah... saya harus melakukan hal yang kata ibu saya baik buat saya dan mereka, namun saya akan tetap ke bali dan berhenti dari pekerjaan yang sudah saya kendalikan kontrolnya. Tiga tahun lagi kita punah saya akan melempari kaca-kaca yang sudah lama saya inginkan, atau saya akan membuka pintu mesjid atau langgar dekat rumah yang kuncinya ada pada ayah saya. Tetapi saya sudah kafir di mata mereka,menikmati bir dingin dengan sedikit es batu... apakah lagi-lagi saya harus menyesal dengan apa yang saya pilih....
dan itu bukan pilihan kan... itu memang benar... dan benar-benar pilihan yang benar. Kenapa mereka bilang salah, mereka terlalu bodoh sih gak mau jujur dengan apa yang mereka anggap logika dengan diri mereka sendiri, ada yang sedang gak baik-baik saja. 3 tahun sebelum kiamat s(jawaban ga selesai…)
****
Ya itu sih, sebagian jawaban dari beberapa teman saya yang udah mau repot-repot ngejawab pertanyaan aneh begini, benernya ada beberapa orang lagi yang mau saya tanyain, tapi karna kesibukan saya dan mereka, yah…jadilah mereka terlewatkan. Gapapa deh, cadangan buat tahun depan !!
****
Jeng jeng jeng……!! Dan tibalah kita sama pertanyaan yang ditanyakan hampir semua orang yang saya tanyain: "kalau kamu apa?" dan inilah jawaban saya kalau emang tiga tahun lagi kita punah:
Pertama, saya mau ketawa aja. hahaha…tawa seneng dan miris aja sebenarnya, nyadarin Albert camus emang bener. Ha…hidup ini absurd, dan mereka yang sadar hidup dalam dunia yang absurd inilah yang akan tertawa paling akhir. Hhahahahahakhak….
Dan, tentang Jin yang bisa ngabulin semua permintaan itu saya mau ngelakuin banyak hal juga. Nih Jin:
-Saya mau balik ke tahun 60-70 an buat nongkrong di bar-bar London sambil nonton shownya The Velvet Underground plus Nico tentunya.
-Rada romantik dikit, saya mau nyari cewe temen SD saya dulu yang namanya Muliawati Oktaviani dan keliling-keliling kampung halaman dan sekedar bilang saya emang dulu suka ama dia. [First love gw nih….]
-Tentunya saya mau keliling dunia, ngga sekedar keliling kayak para turis-turis itu, saya mau bener-bener nikmatin seluruh perjalanan saya. Maen ski di swiss, Party+having sex ama cewe-cewe di Manado, Diving di Karibia, hiking di Islandia pas summer, naek sepeda di desa-desa Selandia baru, nongkrong pake flannel ama anak-anak Seattle sound, nge-baks legal di kafe-kafe Belanda, piknik di taman sakura Osaka, maen judi black jack di Las Vegas, maen bola ama anak-anak Brasil, maen di Disneyland, nyobain kaviar di atas kapal pesiar di laut Liverpool, banyak deh pokoknya.
-Dan sebulan terakhir menuju hari H, saya mau ke Montreal, Kanada, minta semua personel Godspeed You Black Emperor! buat reunion trus mainin "Dead Flag Blues" sebagai O.S.T hari terakhir. Hehe….
Dan tepat di saat penentuan, di saat semua orang udah pasrah, saya bakal ngomong ke Jin itu: "hey Jin, tunda dulu donk kiamatnya, ga asik nih…tunda aja dulu beberapa tahun lagi. Okei!". Gitu deh, soalnya, meskipun dunia ini nyebelinnya minta ampun, buat saya—dan banyak teman yang saya kenal, masih terlalu cinta dan berhasrat setengah mati buat ngejalanin hidup ini, buat nyelesain masalah yang ada, buat ngga lari dari kenyataan sekaligus ngebaikin nya, buat hidup yang lebih asik, buat bener-bener nyelesain cita-cita yg sudah ditulis tadi sesusah apapun jalannya, buat ngebantuin orang-orang disekitar saya buat beneran ngewujudin cita-citanya, buat hidup yang lebih menarik.
Heheh…lagian saya ngga terlalu bersemangat aja kalau semuanya udahan. Biarpun nantinya ternyata kita dapat kejutan bahwa janji tempat yang namanya surga itu beneran ada dan bahkan kita semua dimasukkin ke sana,
ih….apa enaknya coba hidup di tempat yang isinya yang baik-baik semua…? Cape deh...
Hehe…selamat hidup semua…., selamat berusaha…!!!
[ bagi yang laen yang mau ikutan kuisioner juga, kalo kelamaan buat saya survey lagi tahun depan, mendingan langsung isi ke kolom comment yang ada di bawah. Selamat mengisi…!!!]
[“walaupun
tidak akan pernah tahu dengan pasti seperti apa kehidupan sehari-hari pada
masa-masa awal homo erectus, kita bisa menggunakan pembuktian arkeologis yang
kaya pada situs 50[1],
dan imajinasi kita, untuk menyusun kembali kehidupan semacam itu 1,5 juta tahun
silam: ….”]
Sebatang sungai tadah hujan mengalir
lembut melintasi bantaran yang luas di sisi timur suatu danau besar.
Pohon-pohon akasia tinggi, berjajar sepanjang tepian sungai yang
berkelok-kelok, menyediakan keteduhan yang nyaman dari terik matahari. Dalam
setahun palung sungai tersebut lebih sering kering, tetapi hujan yang baru saja
turun di perbukitan sebelah utara turun mengalir ke danau, perlahan-lahan
menggenangi sungai itu. Selama beberapa minggu, bantaran itu sendiri semburat
dengan warna oleh mekarnya rerumputan berbunga yang membersihkan kembang kuning
dan lembayaung pada latar tanah jingga dan belukar akasia bak awan putih
berarak. Musim hujan telah tiba.
Disini, disuatu belokan itu, kita
menyaksikan sekelompok kecil manusia, lima perempuan dewasa dan sejumlah bayi
dan anak-anak. Perawakan mereka atletis, dan kekar.Mereka berceloteh nyaring bertukar pantun,
dan berdiskusi tentang rencana hari ini. Di pagi buta sebelum fajar
menyingsing, empat lelaki dewasa kelompok tersebut pergi mencari daging. Tugas
perempuan adalah mengumpulkan bahan makanan, yang bagi semua orang merupakan
makanan pokok mereka. lelaki berburu, perempuan mengumpul: itulah sistem yang
berjalan sangat bagus bagi kelompok ini dan dalam waktu yang lama sekali.
Tiga perempuan sekarang siap-siap pergi,
mereka telanjang selain yang ditutupi sehelai kulit hewan yang tersampir di
bahu yang berfungsi ganda sebagai gendongan bayi dan, kemudian, keranjang
makanan. Mereka membawa tongkat pendek tajam, yang sudah disiapkan sebelumnya
oleh salah seorang perempuan dengan menggunakan serpih batu tajam untuk meraut
ranting-ranting yang alot. Inilah tongkat penggali, yang memungkinkan perempuan
itu menggali umbi-umbian manis yang tertanam dalam, makanan yang mustahil
diperolah kebanyakan primata besar. Mereka pun akhirnya berangkat, berjalan
beriring sebagaimana biasanya, menuju ke perbukitan jauh sekitar danau, menyusuri
jalan yang diketahui akan membawa mereka ke tempat yang banyak terdapat biji-bijian
dan umbi-umbian. Untuk mendapatkan buah matang, mereka masih harus menunggu
hingga akhir tahun, ketika hujan telah merampungkan tugasnya.
Di tepi sungai, dua perempuan yang
tinggal istirahat di pasir halus di bawah pohon akasia, mengawasi senda-gurau
tiga anak. Terlalu tua untuk dibawa-bawa dengan gendongan dari kulit binantang,
terlalu muda untuk ikut berburu atau mengumpulkan makanan, anak-anak itu
melakukan apa yang dilakukan oleh semua anak-anak manusia: main peran-peranan,
permainan yang mengkhayalkan kehidupan mereka ketika dewasa. Pagi ini, salah
seorang dari mereka berperan sebagai antelop dengan menggunakan dahan sebagai
tanduk, sedang dua yang lain sebagai pemburu yang sedang mengintai mangsa.
Lalu, yang paling tua diantara mereka, seorang gadis, meminta salah seorang perempuan
dewasa untuk memperlihatkan padanya, sekali lagi, cara membat perkakas batu.
Dengan sabar, perempuan dewasa itu memungut dua bongkah batu kali dan dengan
cekatan dan tangkas memukulkannya satu sama lain. Serpih batu yang sempurna pun
terpilah. Dengan tekad bulat, si anak perempuan melakukan hal yang sama, tetapi
tidak berhasil. Perempuan dewasa tersebut lalu memegang tangan di gadis dan
membimbingnya gerakan yang benar, perlahan-lahan.
Membuat serpih batu lebih susah daripada
yang disangka, dan kemahiran biasanya diajarkan dengan mempertontonkan, bukan
menuturkan. Si gadis mencoba lagi, kini dengan gerakan yang sedikit berbeda.
Sepotong serpih tajam pun terpilah, dan gadis itu bersorak penuh kemenangan. Ia
pungut serpih batu tersebut, memperlihatkannya kepada si perempuan yang
tersenyum, dan kemudian lari kepada teman-teman sepermainannya. Mereka sama-sama
meneruskan permainan, kini lengkap dengan perkakas orang dewasa. Mereka mencari
ranting kayu, yang oleh gadis yang baru belajar memecah batu itu diraut sampai
ujungnya, dan mereka membentuk suatu kelompok berburu, mencari ikan lele untuk
ditombak.
Ketika senja tiba, tepi perkemahan
pinggir sungai itu kembali ramai, karena ketiga perempuan dewasa itu telah
pulang dengan kantung kulit hewan yang menggelembung berisi bayi dan pangan,
temasuk beberapa butir telur burung, tiga ekor kadal kecil, dan—hidanganyang tak terduga—madu. Puas dengan usaha
mereka, semua perempuan itu menerka-nerka apa yang akan dibawa oleh para
lelaki. Seringkali pemburu pulang dengan tangan hampa. Memang demikianlah sifat
upaya mencari daging. Tetapi ketika nasib mereka mujur, imbalannya bisa besar,
dan tentu saja membanggakan.
Tak beberapa lama kemudian, suara
sayup-sayup yang makin mendekat memberitahu para perempuan bahwa para lelaki
telah pulang. Dan, mendengar nada girang pada percakapan para lelaki itu,
mereka pulang membawa hasil. Hampir seharian mereka mengintai sekawanan kecil
antelop, sambil memperhatikan seekor di antaranya tampak sedikit pincang.
Antelop pincang ini sering tertinggal. Para lelaki itu merasa punya peluang
untuk menangkap seekor hewan besar. Pemburu dengan senjata alamiah atau buatan
yang seadanya, seperti kelompok ini, terpaksa mengandalkan kecerdikan. Kemahiran
mengendap-endap, menyamarkan diri dengan sekeliling, dan pengetahuan kapan
menyerang adalah senjata mereka yang terampuh.
Akhirnya satu kesempatan muncul, dan
dengan kesepakatan diam-diam, tiga lelaki itu bergerak ke posisi yang
strategis. Salah seorang dari mereka melempar batu dengan jitu dan kuat,
lemparan yang melumpuhkan mangsa; dua lainnya lari meringkus buruan. Satu
tikaman yang tangkas dengan tongkat pendek dan runcing mengucurkan darah dari
bagian leher antelop. Hewan itu meronta tapi segera mati. Letih dan mandi
keringat dan berlumuran darah, ketiganya bersorak girang. Timbunan batu kali di
dekat situ menyediakan bahan mentah untuk membuat perkakas yang diperluakan
untuk memotong hewan itu. Memukulkan dengan keras batu kali satu sama lain
menghasilkan serpihan secukupnya untuk menguliti hewan tersebut dan melolosi
tulang putih dari daging merah. Dengan cepat otot dan urat lepas berkat
keterampilan si penjagal, dan para lelaki itu pun kembali ke perkemahan,
membawa dua potong daging paha sembari tertwa-tawa dan saling mengolok tentang
kejadian hari itu dan peran masing-masing di dalamnya. Mereka tahu akan
disambut dengan meriah.
Kemudian ada rasa yang hampir bersifat
agamawi dalam acara makan daging itu di sore hari. Lelaki yang memimpin
kelompok pemburu mengiris daging menjadi beberapa potong dan menyerahkannya
kepada para perempuan yang dudukdi sekitarnya
dan kemudian kepada lelaki. Perempuan membagi jatahnya kepada anak-anak, yang
kemudian saling tukar daging sambil bercanda. Yang lelaki memberikan potongan
daging kepada pasangan masing-masing, dan pasangan masing-masing membalas
pemberian itu. Makan daging bukan sekedar menangkal perut itu; itu merupakan
kegiatan yang mempererat tali ikatan sosial.
Ketika rasa girang dengan keberhasilan
berburu mereda, lelaki dan perempuan dewasa saling-bertukar pengalaman hari itu
dengan santai. Timbul kesadaran bahwa mereka harus segera meninggalkan perkemahan
yangmenyenangkan tersebut, karena hujan
yang turun semakin deras nun di perbukitan akan segera membuat sungai meluap
mengenangi tepian sungai. Tapi untuk sementara ini mereka puas.
Tiga hari kemudian kelompok itu
meninggalkan perkemahan untuk seterusnya guna mencari tempat aman di dataran
yang lebih tinggi. Bukti kehadiran mereka di sana yang cuma sekejap berceceran
di mana-mana. Tumpukan serpih batu kali, kayu rautan, dan kulit awetan menjadi
bukti keterampilan teknologis mereka. pecahan belulang binatang, kepala ikan
lele, cangkang telur, dan sisa umbi-umbian menunjukkan beragamnya makanan
mereka, tetapi, tak ada bekas keabraban sosial yang menjadi pusat perhatian
perkemahan. Tak berbekas juga acara makan daging dan cerita tentang peristiwa
sehari-hari. Tidak lama kemudian perkemahan yang kosong dan senyap itu perlahan-lahan
tergenang, seiring dengan merebaknya air ke tepian. Endapan halus menutupi
sampah lima hari kehidupan kelompok kecil itu, yang merengkuh sepenggal kisah.
Akhirnya semua luruh, kecuali belulang dan bebatuan, menyisakan sekelumit bukti
untuk menjadi dasar menyusun kembali sepenggal kisah itu.
[Bukannya mau
ngeglorifikasi sih, saya cuman lagi pengen sekedar flashback dan sedikit
romantis-romantisan sama kehidupan nenek-moyang kita, sambil saya minum susu
hangat dan dengerin mono di PC dan tiba-tiba marah-marah sendiri begitu nyadar
kalo 99% hidup manusia itu kaya gini jalannya, dan bertanya-tanya; “kenapa
orang-orang masih bilang kita ngga punya cara hidup selain yang ada saat ini
ya?”, “kenapa saya ada di 1% nya yg sial ini ya…?”, tapi tiba-tiba ditelinga kiri saya Sisifus
& Zarathustra yang baik hati datang dan berbisik; “Amor Fati lur…!”]
[1]
Sebuah situs yang kaya akan bukti-bukti fosil di dekat lereng kalahari, sekitar
24 km timur danau Turkana, Kenya utara.
Dia tidak untuk dijemput, dialah yang akan menjemput kita
Bangun pagi itu hal yang nyenengin. Sudah beberapa bulan ini saya selalu ngusahain buat bangun pagi sekitar jam 5 atau jam 6-an gitu. Selain itu saya juga punya resolusi buat ngurangin jam tidur. 8 jam waktu tidur yang disarankan oleh dokter-dokter di tivi itu terlalu lama kayanya. Maksimal saya sekarang Cuma tidur 6 jam. Alasannya sih, saya pengen nambah waktu kegiatan aja, saya suka ngerasa sayang aja kalo tidur lama. Padahal waktu yang dipakai buat tidur itu seharusnya bisa buat ngerjain hal-hal lain yang lebih saya senengin. nyelesain baca buku, ngerjain tugas kuliah, kongkow-kongkow, nulis buat blog, ngobrol-ngobrol, ngeteh, ngejamur, online, nonton film, nyuci, nyetrika, dll, dll. Banyak lah. Kadang-kadang saya jadi berharap putaran bumi di sumbunya jadi lebih lama supaya sehari kita punya waktu lebih dari 24 jam. Hehheh. Lagian Muhammad SAW aja konon Cuma tidur maksimal 4 jam setiap harinya. Makanya dia bisa jadi orang hebat, waktunya pasti banyak dipake buat kegiatan yang lebih produktif daripada tidur.
Tadi pagi merupakan pagi yang ngga biasa banget. Seperti biasa saya udah bangun jam 6. Hari ini hari Jum'at, jadi ngga ada kuliah brengsek itu, dan saya bisa ngelakuin kerjaan yang lebih bermanfaat seharian. Dari pagi di mesjid dekat kosan udah rame suara orang pengajian. Aneh memang, soalnya setau saya waktu sholat subuh udah lewat dari tadi, pengajian rutin barangkali. Setelah sedikit menghimpun 'nyawa' saya akhirnya memutuskan buat ngejemur baju yang udah saya rendam dari kemaren. Pagi ini memang cerah, matahari sinarnya lembut banget, dan sedikit informasi, di kamar saya yang ada di lantai dua ini kita bisa langsung ngeliat gunung geulis yang ada di jatinangor. Indah banget. Gunung ini udah mulai hijau banget sekarang, ngga kaya dulu pertama kali saya ke jatinangor yang mana gunung ini gundul semua. Setelah sedikit bilas-bilas, saya ke lantai atas buat ngejemur baju. Setelah diliat-liat ternyata ada orang-orang yang sedang mencangkul-cangkul tanah di belakang kosan saya. Informasi lagi nih, kosan saya ini terletak di tempat yang cukup terpencil dari kehidupan jatinangor, masih banyak rumah warga di sekitar sini, dan yang jelas kosan saya dikelilingin sama pohon-pohon bambu yang gede-gede. Di samping dan belakang juga ada beberapa kuburan buat warga sekitar, bukan pekuburan massal.
Hari ini kayanya ada yang meninggal. Usut punya usut saya akhirnya bisa ngeliat proses pekuburan mulai awal sampai akhir dari lantai tempat jemuran. Sudah lama saya ngga ngeliat prosesi kaya gini. Terakhir saya ngikutin proses pengkuburan mbah saya waktu kelas 1 SMA. Dan ya, banyak yang terjadi sama saya sejak waktu itu. Momen dramatis tadi pagi adalah ketika sang mayat yang sudah dikafani mulai dimasukkan ke dalam lubang pekuburan, para keluarga yang tadinya terlihat tabah langsung berubah 360°. Suara tangisan pecah dan seperti wabah menyebar ke anggota keluarga yang lain. Ngga lama ternyata ada Refa –teman kosan & kuliah saya, datang dan langsung nanya-nanya ke saya siapa yang meninggal. Akhirnya kita berdua ngeliatin proses itu sampai orang-orang disitu pada bubaran. Pagi-pagi tepat setelah bengun tidur dan langsung liat proses penguburan kayaknya memberi efek dramtis buat Refa. Mendadak dia langsung lebih bijak dan agak diam. Seperti yang sudah saya tebak, dia langsung nanya-nanya ke saya gimana saya memandang kematian sekarang. Refa memang salah satu teman yang tahu posisi saya masalah spritualitas. Dia salah satu orang yang masih juga ngga pernah ngerti gimana saya ngga percaya bahwa ngga ada kehidupan setelah kematian. Ngga ada surga dan neraka diluar sana. Berkebalikan dengan premis dasar hampir semua agama besar di dunia.
****
Filsafat adalah yang pertamakali membawa saya ke pertanyaan-pertanyaan dahriah. Agama dan Tuhan adalah salah satu dari berbagai doktrin dasar yang diajarkan ke saya sedari kecil yang saya recoki. Bukan hal yang mudah awalnya, dan memang tidak akan pernah mudah. David Hume, Friedrich Nietzsche, Jean-paul Sartre, dan Albert Camus, adalah beberapa filsuf yang sama sekali ngga baik buat harmoni konsep-konsep tersebut, dan saya membaca hampir semua tulisan mereka. sial memang (atau beruntung?). Siapa juga yang ikhlas ninggalin nikmatnya surga?Tadinya saya punya harapan sedikit sama konsep spiritualitas yang udah dialamin sama beberapa temen. Sialnya ini pun juga ngga bekerja dengan baik, saya ngga kunjung merasakannya, atau dalam bahasanya GM ; "pengalaman spiritual".Buku-buku tentang Tao, Zen, Sufi(-isme), dan yang teranyar "Manunggaling Kawulo Gusti"nya Syekh siti Jenar juga ngga mempan, dan masih bikin saya nanya "mana spiritualitas !?" spiritualitas lemah karena dia pilih-pilih, gimana dengan kami yang ngga kunjung merasakannya? Atau emang saya yang ngga sabaran ? Terus gimana dengan Richard Dawkins yang udah sekitar 60 tahunan dan ngga kunjung ngerasain juga? I have no idea brother… akhirnya saya bilang cukup. Saya emang ngga bisa ngebuktiin kalo Dia ngga ada. Tapi semua orang juga ngga bisa ngebuktiin kalo Dia ada. Saya juga mulai ngga peduli tentang konsep Dia secanggih-canggihnya. Yang saya tau cuma satu. Dia ngga ada relevansinya dengan hidup saya…
Setahun terakhir saya malah jadi lebih ikhlas lagi. Sumpah, yang ini benar-benar ikhlas. Setelah menamatkan rangkaian buku Albert Camus, yang bikin saya ikhlas hidup, saya malah punya berjuta argumen lagi yang bikin saya ngga bisa percaya Dia. Kali ini bukan filsafat, tapi sains. Antropologi, arkeologi, biologi molekuler & genetic, fisika, kima, psikologi, zoologi adalah ilmu-ilmu yang tadinya saya acuhkan karena ngga sekeren filsafat, tapi sekarang malah bikin saya harus ikhlas. Faktor jurusan saya kuliah emang berpengaruh besar. Memang ilmu-ilmu itu juga belum selesai dalam pencariannya, tapi yang pasti saya jadi ngerti siapa manusia sebenarnya, kenapa dan sejak kapan kita menciptakan agama dan Tuhan, kenapa dan sejak kapan kita takut akan kematian, kenapa argument penciptaan adalah hal yang ngga masuk akal. Akhirnya seperti yang ditulis di salah satu blogroll di blog ini, "membuat kita bisa ikhlas berada di dalam kehidupan; ikhlas bahwa Dia tidak pernah ada."
lantas apa hubungannya dengan kematian?
Saya yakin 99% bahwa mereka yang sedang membaca tulisan ini adalah orang-orang yang pernah berpikir untuk bunuh diri. Dan sekitar 40 % pernah benar-benar mencobanya. Kematian adalah hal yang paling ditakuti oleh manusia. Kita, homo-sapiens sapiens adalah satu-satunya binatang yang memberikan makna terhadap segala sesuatu. Oleh karenanya kita juga memberikanmakna pada kehidupan pun kematian. Sejak homo-neanderthal mulai mengubur sanak-saudaranya dan memberikan upacara kematian, sejak itulah juga dunia tidak pernah sama lagi, kini bumi mempunyai spesies yang demi kelangsungan hidupnya dapat melakukan apapun. Mengubah alam salah satunya. Manusia adalah mahkluk yang sadar akan kefanaannya. Dari kesadaran akan kefanaannya itulah akhirnya kita menciptakanberbagai cara agar kita, yang sudah terlanjur cinta akan kehidupan, tetap mempunyai alasan untuk hidup. Dari sinilah konsep 'alam yang lain' muncul. Dari sini manusia dapat menumpukan harapannya bahwa setelah berakhirnya kehidupan di dunia yang fana, masih ada kehidupan lainnya yang berisi ruh-ruh yang akan kekal abadi selamanya. Inilah cikal bakal animisme dan dinamisme. Dalam fase ini konsep surga dan neraka belumlah eksis. Yang ada hanya kehidupan abadi yang kekal. Lalu bagaimana surga dan neraka timbul? Seiring dengan semakin kompleksnya tingkat kehidupan manusia, yang ditandai dengan revolusi agrikultur 10.000 tahun yang lalu dan berujung pada kemunculan hak milik pribadi dan peradaban, manusia perlu membuat berbagai hukum yang bisa menjaga hal-hal tersebut. Hak milik pribadi yang utama. Karena munculnya hak milik pribadi ini mulailah muncul stratifikasi sosial dalam masyarakat berdasarkan kepemilikan. Dari sini akhirnya diperlukan hukum tertulis yang mengatur permasalahan tersebut. Namun dalam perjalanannya hukum tertulis ini juga belum mampu meredam konflik yang timbul akibat stratifikasi sosial ini. Maka seiring dengan munculnya nilai moral, diciptakanlah konsep 'dunia lain' yang bisa membalas segala perbuatan yang kita lakukan di dunia. Yang "baik" masuk surga dan yang "jahat" masuk neraka. Dengan semakin kompleksnya masyarakat, maka konsep religi juga semakin kompleks. Dari Tuhan-Tuhan yang berada di alam, juga mengarah kepada dewa yang banyak, hingga ke tahap Tuhan yang satu. Sosok-Nya juga berubah dari yang berwujud alam (animisme/dinamisme) pada masa berburu-meramu menuju sosok 'mother earth' (budaya jawa juga punya loh, namanya Dewi Sri) pada masyarakat bertani, menuju dewa-dewa dan Tuhan yang mempunyai bentuk-bentuk dan sifat-sifat manusia pada masa peradaban. Perhatikan juga bagaimana sosok tuhan yang tadinya alam, berubah ke perempuan, dan akhirnya sosok laki-laki pada masa peradaban, selain merupakan sejarah patriarki (Feminis! abolish civilization please) ini juga adalah sejarah pandangan antroposentris dimana manusia melihat dirinya terpisah dari alam dan sebagai penguasa tunggal di dunia. Oiya, semua pandangan ini juga makin kuat ketika munculnya filsafat idealisme di eropa pada abad XVII.
tiada awal, tiada akhir tiada sebab, tiada akibat tiada pencipta, tiada tujuan
Anak yang sering melakukan tindakan-tindakan anti sosial yang merugikan orang lain, dan yang dalam hukum diperlakukan lain dengan orang dewasa, bergantung kepada hukum negara yang bersangkutan. Umur yang "belum dewasa" itu ada yang di bawah 16, 18, 20, dan 27 tahun.
(koentjaraningrat, dkk. Kamus istilah antropologi, Pusat Pembinaan & Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 1984)
Seorang teman, sebutlah namanya Lintang. Seorang pemuda yang sampai beberapa minggu yang lalu tidak pernah saya mengerti tindak-tanduknya. Lintang adalah orang yang saya kenal dikarnakan keberadaannya pada jurusan yang sama dengan saya di Universitas. Sejak awal, dan sampai sekarang dimata beberapa teman sejurusan dikampus Lintang bukanlah tipe anak yang diinginkan untuk menjadi teman dalam jalan yang lurus. Gaya hidupnya memang sungguh tidak keruan. Kuliah males-malesan, peminum alkohol, berdekatan dengan obat-obatan, pelaku seks bebas, singkatnya sorang bajingan bagi beberapa teman saya. Seorang anak yang diberi kebebasan financial tapi tidak mendapat kasih sayang khas anak Jakarta menurut saya. Tapi bagi saya dan beberapa teman-teman yang dekat dengannya memang gaya hidupnya yang demikian sama sekali bukanlah masalah, selama kami masih bisa tertawa dan bersenang-senang dalam dunia yang murung ini, kami akan tetap melanjutkannya.
Dan dalam kesehariannya yang penuh dengan candaan dan keriangan itu, tentutidak ada yang perlu dikhawatirkan. Itu juga yang membuat dia selalu bertanya-tanya kepada saya tentang beberapa kegiatan saya yang menurut dia tak semenyenangkan hal-hal yang bisa saya dan dia lakukan bersama. Buang-buang waktu, tenaga dan duit katanya. Ya memang begitulah, meskipun saya sering mencoba menjelaskan tentang kegiatan yang saya lakukan tetap saja dia merasa hal-hal itu tidak nyambung dengan kecerian-kecerian yang sering kami buat. Namun hal yang sama juga tidak pernah saya mengerti tentang beberapa hal yang sering dia lakukan. Diluar dari kemalasannya untuk mendengarkan dosen di dalam kelas dan untuk pergi kuliah, dia begitu seringnya (hampir tiap minggunya) pergi ke kota di selatan pulau jawa untuk menemui kekasihnya, Vela. Sesuatu hal yang begitu berlebihan menurut saya ketika hampir tiap akhir minggu dia melakukan perjalanan ratusan kilometer menggunakan kereta api untuk sekedar menemui kekasihnya. Lagipula dia sama sekali bukanlah tipe pria yang rela melakukan perjalanan berjam-jam untuk "sekedar" menemui kekasihnya. Dia dapat dengan mudah mendapatkan seorang perempuan yang lain di Jatinangor atau justru Jakarta menurut saya. Aneh memang.
Sampai beberapa hari yang lalu, seorang teman berkata kepada saya bahwa Lintang sedang dirundung masalah. Masalah yang cukup pelik nampaknya.
Beberapa malam yang lalu, seperti biasa, akibat dari beberapa obrolan ringan, tercetuslah ide untuk membeli sedikit minuman. cukup baik sepertinya melihat keadaan. Malam itu saya sengaja untuk menahan sebisa mungkin keinginan untuk ikut minum, sengaja saya membiarkan Lintang yang lebih banyak untuk meminumnya. Dan benar saja diantara kami bertiga malam itu, memang dia yang paling kuat minumnya. Saya sengaja melakukan ini karena ingin mendengar dan membuat dia mengeluarkan masalah yang dia punya. Memang di dunia yang seperti ini orang terkadang menjadi begitu sulit untuk sekedar menceritakan permasalahannya kepada orang terdekatnya sekalipun.
****
Sudah lama saya tidak mendengar suara ini, suara yang sebelumnya hanya akrab ditelinga saya sampai saya duduk di bangku smp. Suara yang sebenarnya merupakan tarian paling indah bagi manusia, tarian dalam sebuah gerimis gemintang.
Lintang menangis, iya, benar, dia menangis…dia kemudian bercerita, bercerita tentang kisahnya…
****
Pertimbangkan bahwa kau seorang anak kuliahan. Pertimbangkan bahwa kau seorang pemuda yang masih ingin bersenang-senang Pertimbangkan bahwa kau adalah harapan terbesar dari keluargamu. Pertimbangkan bahwa kau harus dipaksa menikah hanya gara-gara menyalurkan rasa cintamu. Pertimbangkan kau sudah mempunyai anak. Pertimbangkan kau harus dijauhi dari mereka berdua. Pertimbangkan bahwa kau menanggungnya di umur 19 tahun.
Pertimbangkan bahwa pada saat itu juga hatimu remuk karena cemburu ketika tahu ibu dari anakmu sedang bercinta dengan pria lain…
Othello excellent wretch! Perdition catch my soul But I do love thee! And when I love thee not, Chaos is come again.
setelah pulang dari liburan yang sangat menyenangkan di Kalimantan sebenarnya banyak hal yang ingin saya tulis di blog ini,tentang perjalanan yang menyenangkan di Samarinda, perjalanan pulang ke bandung, sampai hari-hari awal kedatangan saya di jatinangor. Sebenarnya dalam kurun waktu itu banyak hal disekeliling saya terjadi, dan yang terjadi itu rata-rata adalah hal-hal yang tidak biasanya saya alami setiap hari, dan tentunya kisah-kisah itu sudah seharusnya saya tulis disini. Tapi yah….rencana tinggal rencana. Entah kenapa saya tiba-tiba merasa menjadi orang yang paling sibuk di seluruh dunia, ini dikarenakan minimnya waktu saya untuk melakukan hal-hal yang saya senangi, dimulainya tahun ajaran baru di Universitas tempat saya berada itu berarti bakal ada algi kegiatan ospek-ospekan buat mahasiswa baru tahun ini. Dan saya, sebagai salah satu orang yang paling males ngurusin hal-hal beginian terpaksa ikutan repot juga gara-gara minimnya sumber daya manusia yang ada di jurusan saya, sehingga setiap mahasiswa angkatan tahun sebelumnya seperti saya harus ikutan jadi panitia.
Iya itu aja sih, sebenarnya tulisan ini buat penyamung aja ke beberapa temen-temen yang nanyain "keberhilangan" saya di dunia perblogan. Bahwa sebenarnya saya masih semangat dan pengen terus-terusan nulis di blog ini, tapi ya itu tadi…waktu saya di depan komputer jadi kurang banget buat nulis beginian dan malah sibuk ngurusin hal-hal yang engga saya senengin. semoga aja acara ospek-ospekan kaya gini cepetan selese dan saya bisa ngelakuin hal-hal yang saya senengin lagi lebih banyak. Amin. Trus saya juga mau ngucapin selamat ke beberapa teman yang "memutuskan" untuk kembali berbloging ria, dan tetap semangat ajalah buat yang masih pengen nullis, tapi kehimpit waktu kaya saya, santai aja kali, lagian kan blog ini sepenuhnya di tangan kita, asal bukan blog periodikal kaya catatan pinggir nya GM aja dah. Heh….dadah selamat menulis,