Pada suatu hari, Ikarus, yang terpenjara di Pulau Kreta, ingin melarikan diri melalui udara, terbang. Ayahnya, Daedalus, seorang penemu, membuatkannya sayap. Bulu-bulu garuda pun dihimpun dan ditata, dan akhirnya sepasang sayap buatan besar pun jadi, direkatkan dengan lilin ke tubuh si anak. Ia terbang. Tapi ia terbang terlalu tinggi, mendekati matahari. Lilin itu pun meleleh oleh panas surya, dan sayap buatan itu tanggal, dan Ikarus jatuh ke bumi, ke laut Aegea. Ia tenggelam.
Mitologi Yunani tak sekali-kali menceritakan apa yang terjadi begitu tubuh Ikarus terhempas ke permukaan ombak. Tapi pada tahun 1555 seorang perupa Belanda melukis adegan itu. Dalam Lanskap dengan Kejatuhan Ikarus, sang empu tak memaparkan sebuah kecelakaan yang menyedihkan ataupun sebuah peristiwa yang dramatik. Justru sebaliknya.
Di kanvasnya, yang tampak adalah sebuah pemandangan pastoral, cerah dan penuh warna. Pagi musim semi, dengan seorang petani penggaru ladang. Seorang penggembala, seraya bersandarkan pada tongkat, tampak melihat ke langit yang jernih. Anjingnya duduk sabar, memantau beberapa belas domba yang asyik mencari makan. Sedikit di kanan, tampak seseorang yang sedang memandangi kapal yang berlayar di laut hijau Aegea yang tak diguncang ombak. Di dekat kapal itulah, di permukaan yang praktis tanpa gelombang, tampak sepasang kaki menggelepar di air—sepasang paha dan betis yang memutih sebentar sebelum tenggelam. Itulah tubuh Ikarus yang malang.
Kanvas ini seakan mengatakan; hidup yang normal tampaknya tak terguncang oleh nasib seseorang yang tengah terbanting dan direnggut Maut. Bahwa yang terjadi bukanlah sebuah tragedi, melainkan sesuatu yang lucu seperti badut yang tergelincir kulit pisang? sebuah jiwa jadi tak berharga selama hidup kita masih tenang tanpanya. Kanvas ini hampir tanpa emosi, sebuah guratan terhadap tragedi yang dibiarkan berlalu tanpa arti.
Mengapa saya tiba-tiba putis begini? nafas saya melambat, hasil dan akibat dari hanya mengurung diri beberapa hari. Di tempat dengan kesempatan bersenang-senang setiap malam seperti tempat saya tinggal sekarang ini, sedikit menjauhinya memberikan efek yang lumayan hebat. Saya pasti akan kembali, meski tidak dalam waktu dekat ini. Saya hanya sedang menentukan prioritas kan?
Mungkin bagi Brueghel sang pelukis, nasib malang Ikarus, kisah seorang anak muda yang terbang dan tak sampai, adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang tak perlu dihiraukan: persis seperti jutaan anak muda yang sejak beratus-ratus tahun lalu menuntut perubahan pada masyarakatnya; 1871, 1917, 1921, 1945, 1968, 1994, 1999, 2001, 2007, 2009 dan sampai nanti sistem ekonomi bangsat ini mati. Persis seperti petuah-petuah intelektual kampus anjing-edan yang tak juga mengerti dengan kegiatan "tanpa-perhitungan-oh-sungguh-tak-berguna-nan-membuang-masa-muda" saya yang sering bersinggungan dengan aktivitas-aktivitas "ilmiah-bebas-nilai-nan-netral" kebanggaan mereka.
Ikarus, yang dianggap sebuah contoh kesia-siaan manusia yang takabur dan lupa berhati-hati. Maka bila ia terjerembap dan mati, biarlah. Ikarus, yang tak juga mengerti bahwa hidup lebih baik dijalani dengan kenikmatan yang sudah ada, seperti penggembala yang mensyukuri musim yang jernih. Atau lebih baik hidup ditempuh dengan kerja yang jujur, dengan membajak bumi dan mengarungi laut. Kenapa Ikarus tak meniru penggaru yang tekun, penggembala yang sabar, dan saudagar yang makmur di kapal itu? Kenapa ia harus melanggar kodrat manusia yang sudah ditetapkan, yakni bahwa dia bukan unggas?
Dan barangkali apabila saya bisa melukis, saya pasti akan meneruskan cerita tersebutdengan cerita dari Ikarus bahwa dia, orangtua itu yang memberi jawaban. Dia yang telah menjadi terlalu tua, lamban dan terkadang menjadi penakut dan tak sesemangat kami. Dia, yang membuatkan sayap palsu dengan lilin yang akan terbakar di panas matahari untuk anaknya. Dialah yang berkata "terbanglah nak, terbang. Aku bukan seorang bijak, aku juga tak benar-benar tahu apa itu takdir. Namun tak inginkah kau mencoba melihat dunia di luar sana yang sama sekali berbeda? Satu hal yang aku tahu benar sejak dahulu adalah bahwa diantara rerumputan hijau peladang dan sinar matahari yang kita lihat tiap pagi, diantara merdunya suara deburan ombak yang mengantar kita terlelap tiap malamnya, adalah kenyataan pahit bahwa kita semua hidup dalam penjara. Dengan restuku terbanglah, kepakan sayapmu dan tantanglah mentari oh malaikat kecilku…."
Ikarus akhirnya terjerembab dan mati. Tak apa, setidaknya dia telah mencoba dan menjalani hidup yang dia yakini. Satu lagi anak muda yang mati. Sang peladang dan penggembala miris, meratapi nasib mereka sendiri. Hanya orangtua itu yang sedih sekaligus tersenyum. Ada satu hal yang akhirnya dia pelajari: buat lilin dan sayap yang lebih kuat melawan panas mentari.