Photobucket


"huf..., at least I know I got unfinished business to settle in this world, and I can’t just walk away…"



   

<< August 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, August 04, 2009
Wahyu

—untuk Abdulkarim dan grup pengajian al-Isytirakhiyyah

 

 

“I am nothing and I should be everything”

—Karl Marx pada pengantar 'Contribution to the critique of Hegel’s  philosophy of law’

 

Sudah Juli lagi. Dua tahun yang lalu ada sebuah celah di ingatan saya ketika berkenalan dengan seorang kawan baru yang dengan sedikit basa-basi saya ingin pinjam buku-buku milik Situationist International-nya. Buku yang saat itu sama sekali saya belum benar-benar tahu apa isinya selain informasi dan review-review hebat atas buku ini yang membuat penasaran. Review buku yang begitu canggihnya sampai saya merasa akan sungguh paham akan dunia ketika selesai membacanya. Begitulah. Permintaan yang pada kesempatan pertama langsung ditolak oleh sang empu pemilik buku. Mengecewakan pastinya, terutama untuk orang yang baru saja berkenalan. Saya hanya sedikit riang dipinjami dua buku lainnya. Diperjalanan pulang saya juga memikirkan penyebabnya, sang kenalan baru ini beralasan bahwa buku-buku itu banyak memakai konsep-konsep marxis, sesuatu yang dengan tanpa bertanya dia anggap kurang saya pahami. Saya juga tidak bisa membantah, saya memang kurang akrab dengan Marx, kurang cukup keren sebenarnya. Pengalaman terakhir saya membaca Marx berakhir buruk. Saya mendapat buku  berjudul Brumaire XVII Louis Bonaparte dengan kualitas terjemahan sungguh jelek yang langsung membuat saya menyerah pada kesempatan pertama. Menyerah meninggalkan beberapa teman saya yang justru sedang giat-giatnya membaca Marx lewat buku Franz Magnis-Suseno yang sedang populer. Saya ingin membaca Marx, bukan Romo Magnis-Suseno pikir saya waktu itu.

 

Rasa-rasanya baru kemarin juga saya akhirnya memutuskan berkenalan dengan Abdulkarim al-Isytirakhiyyah, seorang bekas santri yang menurut sang kenalan baru akan banyak membantu dalam memahami Marx. Saya setuju saja dengannya, demi mendapat pinjaman buku SI saya meneguhkan hati. Berkenalan dan sedikit berbincang dengan sang santri. Biasa saja, pada awalnya.

 

****

Sudah Juli lagi. Beberapa hari yang lalu pertemuan-pertemuan ini selesai sudah. Pertemuan yang secara tertulis hanya terjadi sepuluh kali. Petualangan mega yang efeknya bisa sejauh ini. Petualangan sepuluh pertemuan dengan memakan waktu lebih dari dua belas bulan. Saya dan seorang teman yang lain mengakhirinya dengan cukup baik. Bukan akhir sebenarnya, saya bahkan merasa belum memulai sama sekali. Buku tebal itu, juga belum selesai saya tamatkan. Buku yang bolak-balik saya pinjam setelah mendapati ternyata telah habis terjual. Al-Isytirakhiyyah juga, akan terus saya tagih ikut dalam pengajian-pengajian lainnya. Bab I begitu sulit dilewati, teori nilai kerja bahkan belum saya mengerti sama sekali.          

 

Sudah Juli lagi, kini saya kembali mengingat janji untuk membaca SI, janji yang entah kapan akan saya tepati.

 

Sudah Juli lagi. grup pengajian ini sejak awal tidak menawarkan banyak. Saya juga tidak mendapat banyak. Mereka hanya memberi satu hal yang dengan teramat dalam mereka tanamkan. Bukan, ini juga bukan pengetahuan para intelektual yang hanya didapat dari buku dan teks. Ini adalah pengetahuan dalam darah yang kini sudah menemukan tulang dan daging-dagingnya. Satu hal yang akhirnya saya paham. Bellum omnium contra capitalismus. Terimakasih, sudah buat saya jadi manusia lagi

 

 

Posted at 01:58 am by ErmandarA

efrim menuck
August 18, 2009   03:48 PM PDT
 
heheh :D
crimethought
August 14, 2009   04:31 AM PDT
 
relaks... omnia mutantur nihil interit
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry