Bertiga seperti
biasa dengan Giyas dan Lintang, saya menghabiskan malam kedua ini dengan
berkumpul bersama mereka, di pinggir pantai tentunya. Setelah seharian yang
melelahkan, dimulai dengan bertarung dengan ombak di pagi hari, berkeliling di
kampung nelayan di siang hari, dan ber-snorkeling
mengintip terumbu karang sore hari di pasir putih—tempat yang sama sekali
tidak saya kira ada di dekat pengandaran—kami memilih beristirahat malam
harinya. Sekedar menghabiskan waktu dengan duduk di pinggir batu-batu pemecah
ombak sambil meneguk sedikit alcohol yang cukup untuk menghangatkan badan.
Cukup lama kami bertiga tidak berbagi momen seperti ini, kami bertiga memang
tidak bertemu sesering dulu. Cukup lama meskipun tidak cukup lama untuk membuat
saya keliru ke mana arah pembicaraan ini akan mengarah…
Lintang kembali
bercerita, mengeluh dan melenguh. Dia sepengingatan saya adalah seorang teman
yang mempunyai masalah personal terbanyak dan terumit dalam hidupnya. Entahlah,
setiap orang memang mempunyai masalah pribadinya sendiri, tapi semua cerita
yang pernah saya dengar tidak pernah ada yang serumit masalah yang dihadapinya.
Sempat terpikir oleh saya untuk menceritakan setiap cerita yang terjadi
padanya, namun daripada ditulis untuk sebuah blog pendek, ceritanya lebih cocok
untuk dibuat dalam bentuk buku berseri dengan alur cerita yang jauh lebih
dramatis dan tolol dari semua gabungan sinetron Indonesia.
masalah-masalahnya terlalu pelik, aneh, ajaib, dramatis, rumit, kompleks,
sedih, gila, depresif, kelam bahkan liar untuk ditulis. Hampir-hampir seperti
cerita bualan dari negeri dongeng yang tidak bisa kamu percaya sampai kamu
mendengarnya sendiri. Dan yang lebih aneh lagi bagi saya adalah mengapa harus
saya yang sampai berjodoh bersimpang jalan dengannya, menjadi kawannya, dan
harus menjaga banyak dari ceritanya untuk tetap menjadi sebuah rahasia bagi
kami bertiga mungkin sampai mati. Miris memang, tapi orang-orang seperti dia
jugalah sebenarnya yang beberapa bulan terakhir membuat saya menjadi lebih kuat
dan menjadi seriang mungkin kepada siapapun. Dia dan beberapa teman lain yang
juga terus-menerus mencurahkan aibnya dan berharap saya bisa
mentransformasikannya menjadi sebuah rahasia abadilah yang membuat saya tidak
mempunyai alasan lagi untuk terlihat sok
murung dan gelap ala nuansa band post-rock kekinian. Lagipula di tengah dunia
yang memang menawarkan banyak kemurungan dan kekosongan, apalagi yang bisa saya
tawarkan selain tawa dan keriangan?
Pantai timur pangandaran, 22 Mei 2009/Pkl.23.50 wib
Posted at 06:56 pm by ErmandarA