Photobucket


"huf..., at least I know I got unfinished business to settle in this world, and I can’t just walk away…"



   

<< June 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, June 09, 2009
Tengah - tawa

Bertiga seperti biasa dengan Giyas dan Lintang, saya menghabiskan malam kedua ini dengan berkumpul bersama mereka, di pinggir pantai tentunya. Setelah seharian yang melelahkan, dimulai dengan bertarung dengan ombak di pagi hari, berkeliling di kampung nelayan di siang hari, dan ber-snorkeling mengintip terumbu karang sore hari di pasir putih—tempat yang sama sekali tidak saya kira ada di dekat pengandaran—kami memilih beristirahat malam harinya. Sekedar menghabiskan waktu dengan duduk di pinggir batu-batu pemecah ombak sambil meneguk sedikit alcohol yang cukup untuk menghangatkan badan. Cukup lama kami bertiga tidak berbagi momen seperti ini, kami bertiga memang tidak bertemu sesering dulu. Cukup lama meskipun tidak cukup lama untuk membuat saya keliru ke mana arah pembicaraan ini akan mengarah…

Lintang kembali bercerita, mengeluh dan melenguh. Dia sepengingatan saya adalah seorang teman yang mempunyai masalah personal terbanyak dan terumit dalam hidupnya. Entahlah, setiap orang memang mempunyai masalah pribadinya sendiri, tapi semua cerita yang pernah saya dengar tidak pernah ada yang serumit masalah yang dihadapinya. Sempat terpikir oleh saya untuk menceritakan setiap cerita yang terjadi padanya, namun daripada ditulis untuk sebuah blog pendek, ceritanya lebih cocok untuk dibuat dalam bentuk buku berseri dengan alur cerita yang jauh lebih dramatis dan tolol dari semua gabungan sinetron Indonesia. masalah-masalahnya terlalu pelik, aneh, ajaib, dramatis, rumit, kompleks, sedih, gila, depresif, kelam bahkan liar untuk ditulis. Hampir-hampir seperti cerita bualan dari negeri dongeng yang tidak bisa kamu percaya sampai kamu mendengarnya sendiri. Dan yang lebih aneh lagi bagi saya adalah mengapa harus saya yang sampai berjodoh bersimpang jalan dengannya, menjadi kawannya, dan harus menjaga banyak dari ceritanya untuk tetap menjadi sebuah rahasia bagi kami bertiga mungkin sampai mati. Miris memang, tapi orang-orang seperti dia jugalah sebenarnya yang beberapa bulan terakhir membuat saya menjadi lebih kuat dan menjadi seriang mungkin kepada siapapun. Dia dan beberapa teman lain yang juga terus-menerus mencurahkan aibnya dan berharap saya bisa mentransformasikannya menjadi sebuah rahasia abadilah yang membuat saya tidak mempunyai alasan lagi untuk terlihat sok murung dan gelap ala nuansa band post-rock kekinian. Lagipula di tengah dunia yang memang menawarkan banyak kemurungan dan kekosongan, apalagi yang bisa saya tawarkan selain tawa dan keriangan?

Pantai timur pangandaran, 22 Mei 2009/Pkl.23.50 wib

Posted at 06:56 pm by ErmandarA

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry