Pada suatu hari, Ikarus, yang terpenjara di Pulau Kreta, ingin melarikan diri melalui udara, terbang. Ayahnya, Daedalus, seorang penemu, membuatkannya sayap. Bulu-bulu garuda pun dihimpun dan ditata, dan akhirnya sepasang sayap buatan besar pun jadi, direkatkan dengan lilin ke tubuh si anak. Ia terbang. Tapi ia terbang terlalu tinggi, mendekati matahari. Lilin itu pun meleleh oleh panas surya, dan sayap buatan itu tanggal, dan Ikarus jatuh ke bumi, ke laut Aegea. Ia tenggelam.
Mitologi Yunani tak sekali-kali menceritakan apa yang terjadi begitu tubuh Ikarus terhempas ke permukaan ombak. Tapi pada tahun 1555 seorang perupa Belanda melukis adegan itu. Dalam Lanskap dengan Kejatuhan Ikarus, sang empu tak memaparkan sebuah kecelakaan yang menyedihkan ataupun sebuah peristiwa yang dramatik. Justru sebaliknya.
Di kanvasnya, yang tampak adalah sebuah pemandangan pastoral, cerah dan penuh warna. Pagi musim semi, dengan seorang petani penggaru ladang. Seorang penggembala, seraya bersandarkan pada tongkat, tampak melihat ke langit yang jernih. Anjingnya duduk sabar, memantau beberapa belas domba yang asyik mencari makan. Sedikit di kanan, tampak seseorang yang sedang memandangi kapal yang berlayar di laut hijau Aegea yang tak diguncang ombak. Di dekat kapal itulah, di permukaan yang praktis tanpa gelombang, tampak sepasang kaki menggelepar di air—sepasang paha dan betis yang memutih sebentar sebelum tenggelam. Itulah tubuh Ikarus yang malang.
Kanvas ini seakan mengatakan; hidup yang normal tampaknya tak terguncang oleh nasib seseorang yang tengah terbanting dan direnggut Maut. Bahwa yang terjadi bukanlah sebuah tragedi, melainkan sesuatu yang lucu seperti badut yang tergelincir kulit pisang? sebuah jiwa jadi tak berharga selama hidup kita masih tenang tanpanya. Kanvas ini hampir tanpa emosi, sebuah guratan terhadap tragedi yang dibiarkan berlalu tanpa arti.
Mengapa saya tiba-tiba putis begini? nafas saya melambat, hasil dan akibat dari hanya mengurung diri beberapa hari. Di tempat dengan kesempatan bersenang-senang setiap malam seperti tempat saya tinggal sekarang ini, sedikit menjauhinya memberikan efek yang lumayan hebat. Saya pasti akan kembali, meski tidak dalam waktu dekat ini. Saya hanya sedang menentukan prioritas kan?
Mungkin bagi Brueghel sang pelukis, nasib malang Ikarus, kisah seorang anak muda yang terbang dan tak sampai, adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang tak perlu dihiraukan: persis seperti jutaan anak muda yang sejak beratus-ratus tahun lalu menuntut perubahan pada masyarakatnya; 1871, 1917, 1921, 1945, 1968, 1994, 1999, 2001, 2007, 2009 dan sampai nanti sistem ekonomi bangsat ini mati. Persis seperti petuah-petuah intelektual kampus anjing-edan yang tak juga mengerti dengan kegiatan "tanpa-perhitungan-oh-sungguh-tak-berguna-nan-membuang-masa-muda" saya yang sering bersinggungan dengan aktivitas-aktivitas "ilmiah-bebas-nilai-nan-netral" kebanggaan mereka.
Ikarus, yang dianggap sebuah contoh kesia-siaan manusia yang takabur dan lupa berhati-hati. Maka bila ia terjerembap dan mati, biarlah. Ikarus, yang tak juga mengerti bahwa hidup lebih baik dijalani dengan kenikmatan yang sudah ada, seperti penggembala yang mensyukuri musim yang jernih. Atau lebih baik hidup ditempuh dengan kerja yang jujur, dengan membajak bumi dan mengarungi laut. Kenapa Ikarus tak meniru penggaru yang tekun, penggembala yang sabar, dan saudagar yang makmur di kapal itu? Kenapa ia harus melanggar kodrat manusia yang sudah ditetapkan, yakni bahwa dia bukan unggas?
Dan barangkali apabila saya bisa melukis, saya pasti akan meneruskan cerita tersebutdengan cerita dari Ikarus bahwa dia, orangtua itu yang memberi jawaban. Dia yang telah menjadi terlalu tua, lamban dan terkadang menjadi penakut dan tak sesemangat kami. Dia, yang membuatkan sayap palsu dengan lilin yang akan terbakar di panas matahari untuk anaknya. Dialah yang berkata "terbanglah nak, terbang. Aku bukan seorang bijak, aku juga tak benar-benar tahu apa itu takdir. Namun tak inginkah kau mencoba melihat dunia di luar sana yang sama sekali berbeda? Satu hal yang aku tahu benar sejak dahulu adalah bahwa diantara rerumputan hijau peladang dan sinar matahari yang kita lihat tiap pagi, diantara merdunya suara deburan ombak yang mengantar kita terlelap tiap malamnya, adalah kenyataan pahit bahwa kita semua hidup dalam penjara. Dengan restuku terbanglah, kepakan sayapmu dan tantanglah mentari oh malaikat kecilku…."
Ikarus akhirnya terjerembab dan mati. Tak apa, setidaknya dia telah mencoba dan menjalani hidup yang dia yakini. Satu lagi anak muda yang mati. Sang peladang dan penggembala miris, meratapi nasib mereka sendiri. Hanya orangtua itu yang sedih sekaligus tersenyum. Ada satu hal yang akhirnya dia pelajari: buat lilin dan sayap yang lebih kuat melawan panas mentari.
Mungkin otak saya sudah terlalu bebal untuk sedikit sensitif dan mengaitkan kejadian "arus pendek listrik" yang terjadi menjelang lebaran yang mengakibatkan terbakarnya pasar-pasar tradisional, dengan munculnya square-square atau mall-mall penggantinya tiap tahunnya. Baru kemarin saya sadar ketika sebuah pasar tradisional terbakar di daerah jatinangor. Setelahnya para pedagang "direlokasi" di tempat baru. Saya hanya sadar ketika mereka telah melakukan lelucon terlalu jauh: menempatkan para pedagang di lantai dasar dengan mengatakan semua pengunjung akan ke sana terlebih dahulu sebelum mengelilingi mall, sedangkan dari rancang bangunnya ekskalator utama langsung menuju ke lantai dua. Bukan tempat relokasi melainkan kios-kios baru untuk pedagang-pedagang yang jauh lebih besar. Persis sama dengan yang terjadi kepada salah satu keluarga saya yang kiosnya terbakar 2 bulan ramadhan yang lalu dan kini terpaksa harus membayar iuran bulanan untuk melunasi kios baru di tempat bernama 'Pasar Baru Square'.
Diantara ingatan saya akan puluhan pasar tradisional yang terbakar di seluruh pulau jawa ramadhan tahun ini, seorang anggota DPR yang duduk tepat di sebelah saya di Boeing 737 yang terbang ke Kalimantan ini mulai bercerita bahwa masalah utama pembangunan di kota minyak ini hanyalah masalah listrik. Pemetaan wilayah sudah dirancang kabarnya. Dan, bila nanti masalah listrik ini sudah teratasi, tinggal menunggu waktu saja bagi pasar-pasar tradisional yang kini masih berada didaerah pesisir laut itu untuk habis terbakar. Entah kapan, yang jelas di bulan ramadhan menjelang lebaran. Cepat atau lambat.
—untuk Abdulkarim dan grup pengajian
al-Isytirakhiyyah
“I am nothing and I
should be everything”
—Karl Marx pada pengantar 'Contribution to
the critique of Hegel’sphilosophy of
law’
Sudah Juli lagi. Dua tahun yang lalu ada
sebuah celah di ingatan saya ketika berkenalan dengan seorang kawan baru yang
dengan sedikit basa-basi saya ingin pinjam buku-buku milik Situationist International-nya. Buku yang saat itu sama sekali saya
belum benar-benar tahu apa isinya selain informasi dan review-review hebat atas
buku ini yang membuat penasaran. Review buku yang begitu canggihnya sampai saya
merasa akan sungguh paham akan dunia ketika selesai membacanya. Begitulah.
Permintaan yang pada kesempatan pertama langsung ditolak oleh sang empu pemilik
buku. Mengecewakan pastinya, terutama untuk orang yang baru saja berkenalan.
Saya hanya sedikit riang dipinjami dua buku lainnya. Diperjalanan pulang saya
juga memikirkan penyebabnya, sang kenalan baru ini beralasan bahwa buku-buku
itu banyak memakai konsep-konsep marxis, sesuatu yang dengan tanpa bertanya dia
anggap kurang saya pahami. Saya juga tidak bisa membantah, saya memang kurang
akrab dengan Marx, kurang cukup keren sebenarnya. Pengalaman terakhir saya
membaca Marx berakhir buruk. Saya mendapat bukuberjudul Brumaire XVII Louis
Bonaparte dengan kualitas terjemahan sungguh jelek yang langsung membuat
saya menyerah pada kesempatan pertama. Menyerah meninggalkan beberapa teman
saya yang justru sedang giat-giatnya membaca Marx lewat buku Franz
Magnis-Suseno yang sedang populer. Saya ingin membaca Marx, bukan Romo Magnis-Suseno
pikir saya waktu itu.
Rasa-rasanya baru kemarin juga saya
akhirnya memutuskan berkenalan dengan Abdulkarim al-Isytirakhiyyah, seorang
bekas santri yang menurut sang kenalan baru akan banyak membantu dalam memahami
Marx. Saya setuju saja dengannya, demi mendapat pinjaman buku SI saya
meneguhkan hati. Berkenalan dan sedikit berbincang dengan sang santri. Biasa
saja, pada awalnya.
****
Sudah Juli lagi. Beberapa hari yang lalu
pertemuan-pertemuan ini selesai sudah. Pertemuan yang secara tertulis hanya
terjadi sepuluh kali. Petualangan mega yang efeknya bisa sejauh ini.
Petualangan sepuluh pertemuan dengan memakan waktu lebih dari dua belas bulan. Saya
dan seorang teman yang lain mengakhirinya dengan cukup baik. Bukan akhir
sebenarnya, saya bahkan merasa belum memulai sama sekali. Buku tebal itu, juga
belum selesai saya tamatkan. Buku yang bolak-balik saya pinjam setelah
mendapati ternyata telah habis terjual. Al-Isytirakhiyyah juga, akan terus saya
tagih ikut dalam pengajian-pengajian lainnya. Bab I begitu sulit dilewati,
teori nilai kerja bahkan belum saya mengerti sama sekali.
Sudah Juli lagi, kini saya kembali
mengingat janji untuk membaca SI, janji yang entah kapan akan saya tepati.
Sudah Juli lagi. grup pengajian ini sejak
awal tidak menawarkan banyak. Saya juga tidak mendapat banyak. Mereka hanya
memberi satu hal yang dengan teramat dalam mereka tanamkan. Bukan, ini juga
bukan pengetahuan para intelektual yang hanya didapat dari buku dan teks. Ini
adalah pengetahuan dalam darah yang kini sudah menemukan tulang dan
daging-dagingnya. Satu hal yang akhirnya saya paham. Bellum omnium contra capitalismus. Terimakasih, sudah buat saya
jadi manusia lagi
Segelas teh manis
favorit menemani saya menikmati matahari terbit pagi ini. Yang saya maksud
benar-benar sebuah pemandangan matahari terbit yang muncul dari kejauhan laut.
Tanpa halangan awan apalagi gedung-gedung bertingkat perkotaan. Yang ada hanya
cahaya jingga matahari, bukit-bukit kecil, langit biru, dan desiran angin laut
pagi. Beruntunglah mahkluk-mahkluk pagi seperti saya, lagipula dengan suasana
hati yang seperti sekarang, Sunrise memang lebih bisa
saya nikmati. Bagi saya sendiri itu berarti sebuah tawa, optimisme, pencerahan,
keriangan, semangat dan harapan baru. Sebuah afirmasi hidup singkatnya —sebuah Sunrise.
Pantai timur pangandaran, 22 Mei 2009/Pkl.06.02 wib
Bertiga seperti
biasa dengan Giyas dan Lintang, saya menghabiskan malam kedua ini dengan
berkumpul bersama mereka, di pinggir pantai tentunya. Setelah seharian yang
melelahkan, dimulai dengan bertarung dengan ombak di pagi hari, berkeliling di
kampung nelayan di siang hari, dan ber-snorkeling
mengintip terumbu karang sore hari di pasir putih—tempat yang sama sekali
tidak saya kira ada di dekat pengandaran—kami memilih beristirahat malam
harinya. Sekedar menghabiskan waktu dengan duduk di pinggir batu-batu pemecah
ombak sambil meneguk sedikit alcohol yang cukup untuk menghangatkan badan.
Cukup lama kami bertiga tidak berbagi momen seperti ini, kami bertiga memang
tidak bertemu sesering dulu. Cukup lama meskipun tidak cukup lama untuk membuat
saya keliru ke mana arah pembicaraan ini akan mengarah…
Lintang kembali
bercerita, mengeluh dan melenguh. Dia sepengingatan saya adalah seorang teman
yang mempunyai masalah personal terbanyak dan terumit dalam hidupnya. Entahlah,
setiap orang memang mempunyai masalah pribadinya sendiri, tapi semua cerita
yang pernah saya dengar tidak pernah ada yang serumit masalah yang dihadapinya.
Sempat terpikir oleh saya untuk menceritakan setiap cerita yang terjadi
padanya, namun daripada ditulis untuk sebuah blog pendek, ceritanya lebih cocok
untuk dibuat dalam bentuk buku berseri dengan alur cerita yang jauh lebih
dramatis dan tolol dari semua gabungan sinetron Indonesia.
masalah-masalahnya terlalu pelik, aneh, ajaib, dramatis, rumit, kompleks,
sedih, gila, depresif, kelam bahkan liar untuk ditulis. Hampir-hampir seperti
cerita bualan dari negeri dongeng yang tidak bisa kamu percaya sampai kamu
mendengarnya sendiri. Dan yang lebih aneh lagi bagi saya adalah mengapa harus
saya yang sampai berjodoh bersimpang jalan dengannya, menjadi kawannya, dan
harus menjaga banyak dari ceritanya untuk tetap menjadi sebuah rahasia bagi
kami bertiga mungkin sampai mati. Miris memang, tapi orang-orang seperti dia
jugalah sebenarnya yang beberapa bulan terakhir membuat saya menjadi lebih kuat
dan menjadi seriang mungkin kepada siapapun. Dia dan beberapa teman lain yang
juga terus-menerus mencurahkan aibnya dan berharap saya bisa
mentransformasikannya menjadi sebuah rahasia abadilah yang membuat saya tidak
mempunyai alasan lagi untuk terlihat sok
murung dan gelap ala nuansa band post-rock kekinian. Lagipula di tengah dunia
yang memang menawarkan banyak kemurungan dan kekosongan, apalagi yang bisa saya
tawarkan selain tawa dan keriangan?
Pantai timur pangandaran, 22 Mei 2009/Pkl.23.50 wib
Ada tawaran menarik malam ini. Seorang warga lokal
mengajak beberapa orang dari rombongan untuk melihat-lihat ritual rutin warga
sekitar di sebuah gua yang letaknya di dalam hutan lindung sebelah utara
pangandaran. Kebetulan, malam ini adalah hari kamis malam jum’at kliwon dalam
penanggalan Jawa. Hari seperti ini adalah hari yang diyakini merupakan
malam-malam “spesial” bagi kebanyakan penduduk pulau Jawa. Malam keramat
sebutannya. Saya tidak pernah begitu tahu detailnya, yang saya tahu dari dulu
hanya bahwa malam-malam seperti ini merupakan malam-malam yang kuat aura
mistiknya, mistik dalam artian adanya kekuatan-kekuatan lain di luar dunia
materiil yang menampakkan dirinya dan punya pengaruh kuat terhadap apa yang
berjalan di dunia materiil dan dengan demikian perlu dilakukan ritual untuk
menyelaraskannya dengan keinginan manusia. Mungkin saya salah, entahlah, saya
juga tidak pernah membaca dan mempelajari satupun teks-teks yang berkaitan
dengan hal itu. Yang saya paham dari dulu cuma satu, yaitu bagaimana
pengglorifikasian dari hal-hal gaib seperti itu masih ada di sekitar saya dan
seringkali berujung dengan kekesalan saya.
Tempat yang dituju adalah sebuah gua yang berada di dalam
hutan cagar alam sebelah utara pengandaran. Menurut sang warga, di malam jum’at
kliwon seperti ini akan dilakukan ritual oleh seorang dukun yang sudah kerasukan
roh gaib dengan cara memanggil arwah leluhur di gua tersebut. Setelah ritual
tersebut, nantinya siapapun yang masuk ke dalam gua yang dipenuhi air tawar
sebatas dada itu dan menemukan batu di ujung gua, akan dikabulkan permintaannya
dalam bentuk apapun. Cukup menyeramkan tentunya, berbekal cerita—adanya bau
sirih secara tiba-tiba ketika seorang teman yang memakai baju hijau (warna
terlarang di pantai pangandaran) saat berfoto mendekati laut—pada siang
harinya, ditambah dengan hari yang sudah begitu gelap cukup bisa membuat nyali
saya, Giyas, dan Lintang cukup ciut. Sepengamatan saya kami bertiga memang
bukan orang yang bisa takut dengan hal seperti ini, kami bertiga jelas-jelas
lebih takut dengan preman-preman terminal yang berbadan besar dengan mulut
berbau minuman keras cap “intisari”. Tapi memang suasananya malam ini terbangun
demikian, ditambah beberapa perempuan lainnya yang bersikeras ikut meskipun
takut, maka perjalanan horror kami malam ini dimulai.
Sepanjang perjalanan
melewati hutan cagar alam yang gelap gulita keadaan rombongan berubah total,
kebanyakan berpegangan tangan satu sama lain, sedekat mungkin dengan yang lain,
dan mulai menjaga omongan. Untuk menenangkan diri saya berusaha tetap bercanda
dengan Giyas, menertawakan sendiri teman serombongan, dan menduga-duga
bagaimana rupa sang mahkluk gaib nantinya dengan refrensi dari
tayangan-tayangan mistik yang sempat ramai di TV beberapa tahun belakang. Salah
satu dosen yang ikut bahkan sampai mengingatkan kepada rombongan untuk tidak
berkata sompral. Yang cukup mengagetkan saya malah seorang ucapan teman yang
menegur saya; “ih, jaga omongan, saya aja sampai gak berani ngomong gitu”. Begitu
saya mulai dianggap keterlaluan dan melecehkan “penghuni” hutan ini. Hal yang
aneh bagi saya karena selama ini dia dikenal sebagai seorang yang begitu gemar
membaca ratusan buku filsafat dan cukup ahli dalam bidang teoritis feminisme
dan post-modernisme. Kemana larinya semua rasionalitas ala filsuf pencerahan
yang sering dia umbar? yah, seharusnya saya tidak terlalu terkejut semenjak
seorang revolusioner tua dulu pernah berkata bahwa para filsuf memang paling
ahli dalam menafsirkan dunia tapi tidak berbuat apapun untuk mengubahnya.
Sampai di lokasi keadaannya
agak aneh. Tidak ada ritual mistik, tidak ada dukun yang kerasukan roh, dan tidak
ada bau dupa atau kemenyan. Yang ada hanya penjual jajanan seperti rokok,
kacang, dan kopi, wartawan yang membawa kamera SLR dengan lensa super panjang,
pria paruh baya yang “mencari jodoh” sambil duduk-duduk di tikar yang sudah
disediakan, beberapa PSK yang mencari penglaris dan puluhan anak muda bermotor
yang mengantri untuk ikut masuk ke dalam Gua. Saya sempat kaget ketika Giyas
dan seorang lagi dari rombongan bahkan benar-benar masuk ke dalam gua setelah
melepas baju. Semua orang was-was menunggu mereka berdua keluar. Tidak sabar
mendengar pengalaman gaib yang mereka dapatkan didalam. Setelah sekitar 10
menit, mereka berdua keluar. Disambut bak pahlawan giyas langsung bercerita:
“busyet, gelap banget didalam, batu guanya tajam-tajam.
Gak sampe ujung gua, gelap gitu, trus airnya tambah dalam. Yang jelas ngga ada
apa-apa, anak-anak yang di dalam malah becanda-candaan, maenan. Mana mulut
mereka bau anggur semua lagi. Kecewa gua”
Saya hanya tersenyum kecil. Semua orang hanya terdiam dan
tidak lama kemudian memutuskan pulang, kali ini dengan suasana yang lebih
ceria. Tidak ada setan, genderuwo, pocong atau yang lainnya. Entahlah, mungkin
saya kurang beruntung. Tapi yang jelas saya sedikit senang karena sehabis ini
tidak akan ada lagi cerita-cerita pathetictentang hal-hal tidak penting seperti tadi
siang sepanjang sisa liburan ini yang seharusnya menyenangkan.
Diluar ini semua, faktanya saya bukannya tidak suka
dengan ritual-ritual mistis yang dipercayai oleh warga sekitar. Bagi saya dari
sisi asalinya hal-hal itu malah merupakan salah satu cara bagaimana mereka
menjaga relasi-relasi mereka dengan alam. Hal itu merupakan warisan lampau di
mana manusia masih hormat kepada alam dan membina sebuah hubungan yang harmonis
dengannya. Yang jadi masalah bagi saya adalah bagaimana hal-hal tersebut kini
sering diglorifikasi oleh orang-orang perkotaan dan mengaitkannya dengan hidup
harian yang sama sekali tidak ada hubungannya dan juga seperti segala sesuatu
di sistem ini; diubah menjadi komoditi.
Anyway seperti
jawaban saya semenjak awal kepada seorang teman yang bertanya apakah saya
percaya atau tidak hal-hal gaib seperti ini, setelah malam ini jawaban saya
tetap sama:
“gua jelas-jelas ngga bisa ngebuktiin kalo hal gituan
ada, tapi gua juga ngga bisa ngebuktiin kalo hal kayak gitu beneran ngga ada
juga. Gua cuma ngga peduli kok. Lagian yang kayak ginian dari dulu emang ngga
ada kaitannya sama idup kita tiap harinya kan? .”
Ini hari pertama saya di Pangandaran, sama sekali bukan
salah satu dari rencana perjalanan liar yang saya canangkan. Saya ada disini
karena tuntutan dari materi perkuliahan yang meminta penelitian lapangan di
salah satu mata kuliah. Menyebalkan pastinya, segala sesuatu yang berhubungan
dengan perkuliahan memang selalu membuat saya kesal, tapi dibanding dengan
perkuliahan dalam kelas yang selalu berhasil memaksa saya untuk duduk diam dan
hanya mendengarkan ceramah dosen, kuliah lapangan ini masih lebih baik. Berbekal
beberapa potong pakaian, uang 60 ribu rupiah, kamera digital, dan sebuah buku TheHedonism
Handbook karya Michael Flocker. Berdua dengan giyas—seorang teman saya yang
bahkan hanya membawa uang 8 ribu rupiah—kami berdua bertekad mendapat kesenangan
sebesar-besarnya dalam perjalanan ini dan sama sekali mengabaikan tuntutan
penelitian. Dimulai dengan video amatir yang kami buat, Giyas menutup rekaman
itu dengan optimis;
“gw berfirasat kita akan berbahagia disana, euphoria yang
mendalam”
****
Selalu ada suasana yang berbeda setiap kali saya berada
di dekat laut. Entah, meskipun pantai tersebut tidak seindah yang sering saya
lihat di layar televisi, mungkin pantainya tidak selandai yang ada di kuta,
pasirnya tidak putih dan airnya tidak sejernih yang ada di karibia, ombaknya
bukan idola para surfer seperi yang
ada di Australia, tidak seramai yang ada di California, ataupun tidak banyak
wanita berbikini seperti di brazil. Namun, selalu saja ada sesuatu yang
hampir-hampir mistis yang menyelimuti benak saya ketika berada di sana. Hanya
dengan mendengarkan deburan ombak dan merasakan semilir angin yang berhembus
sudah cukup untuk memaku saya sekedar duduk terdiam dan tersenyum sendirian
menikmati momen. Saya bukan sedang menikmati alam sambil bersyukur dan takjub
bagaimana hebatnya jika memang dia diciptakan dan berjalan dalam keteraturan.
Saya juga bukan sedang mengutuki orang-orang yang terus-menerus merusaknya.
Bukan, saya hanya sekedar menikmati momen-momen lampau yang telah terjadi di
sekitar saya, mengingat orang-orang yang pernah datang dan pergi di sekitar
saya dan hal-hal bodoh yang pernah saya lakukan. Saat-saat seperti inilah yang
sangat saya nikmati bila sedang sendirian di pinggir pantai. Lagipula, saya
tidak pernah memohon-mohon kepada para perusak itu untuk berhenti dengan
kesadaran mereka kok, mereka tidak akan
pernah bisa kan?
Pantai barat pangandaran, 21 Mei 2009/Pkl.21.11
wib