horses

Mic Ijo
"The World is SickSICK; (So Kiss Me Quick!)"


   

<< February 2010 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Thursday, January 21, 2010
Pegangan

Adi Wira Winata

 

Itu nama saya sekarang. Nama ‘ilahiah’. Setidaknya begitu kemarin ketika saya menemani Ibu saya yang ternyata menemu guru spiritualnya—sejenis ‘dukun’ modern, yang mempunyai selera fashion yang sama dengan kebanyakan ulama masa kini, yang mulai populer seiring kesuksesan selebritis-selebritis Indonesia yang rata-rata menggunakan jasanya. Orang ini mulai memanggil saya dengan sebutan ‘keponakan’ begitu pertama kali bertemu. Ibu saya memanggilnya ‘pak haji’, jelas ia sudah sering kesini, ini terlihat dari keakraban mereka.

 

Seingat saya, sejarah memang menulis bahwa di masa-masa sulit dan krisislah nabi-nabi muncul ke masyarakat; Ibrahim, Muhammad, Kristus, Sidharta Gautama, Musa, Narada, atau Orpheus muncul di kala masyarakat mengalami goncangan dan dengannya butuh pegangan baru yang kuat untuk mengganti Iman lama mereka yang sudah termakan zaman. Dan orang-orang yang bisa memberikan jawaban akan peliknya kehidupan seperti  ini adalah jenis orang yang paling dibutuhkan. Habermas salah ketika dia memprediksikan dengan semakin majunya modernitas dan teknologi, niscaya agama akan ditinggalkan, kenyataannya tidak, mereka di beberapa sisi justru menjadi begitu kuat dengan fundamentalismenya. Tentu saja.

 

Dan orang ini mulai menulis nama lengkap dan tanggal lahir saya diatas kertas kosong. Mengeluarkan angka-angka dari sana dan mulai terlihat satu bagan yang mirip cara pembagian (hey, saya tidak bisa pembagian, Serius!), dia kemudian menjumlah, mengalikan dan mengurangi. Lalu kemudian muncul angka 30.25. Angka itu personifikasi dari nama yang melambangkan sifat saya katanya. 30 artinya saya selalu mengingat Tuhan, berunsur tanah, dan cocok dengan pekerjaan yang dekat dengan tanah atau juga berbisnis. 25 itu menandakan saya mempunyi sifat penyayang dan apa yang saya kerjakan akan sukses dan menyenangkan orang-orang di sekitar saya. Sisanya seperti yang saya duga dia melanjutkan kesoktahuannya tentang sifat dan perangai saya, mengatakan pada Ibu saya bahwa setelah melakukan beberapa syarat dia akan bisa memantau aktifitas saya di seberang pulau nanti, dan tentu diiringi segala puja-puji yang bisa membuat semua yang mendengarnya akan senang. Ampun DJ.

 

Generasi saya, yang merupakan anak-anak rasionalitas, sudah tentu tidak perlu segala akal dan penjelasan logis saya untuk percaya bahwa bapak ini sedang berbohong dan Ibu saya harus diselamatkan darinya. Saya pun hanya bisa mengangguk-angguk di depannya, memperhatikan Ibu saya yang padahal malam sebelumnya di sebuah jamuan makan malam semi-formal membuat saya mengagumi bagaimana modernitas menciptakan begitu banyak makanan enak, menciptakan parfum-parfum yang wangi baunya, dan menciptakan perempuan-perempuan paruh baya yang tetap menjaga payudaranya meskipun tetap dengan sedikit kekesalan oleh berbagai macam table manners yang hanya membuat saya tampak bodoh. Tentu bodoh, mengapa kita harus menggunakan garpu dan pencapit berbentuk aneh untuk menghabiskan kepiting dan udang seukuran lengan? Seharusnya mereka membiarkan saya menyingsingkan lengan untuk kemudian akan saya tunjukan bagaimana caranya menikmati makanan.

 

Namun setidaknya hari itu saya begitu menikmati tingkah polah orang ini dalam menjelaskan segala mantra-mantranya, nasehat-nasehatnya, mimik wajahnya, juga usaha setengah mati saya untuk menahan gelak tawa. Tidak ada yang perlu diselamatkan darinya, termasuk Ibu saya yang seperti kebanyakan orang tua lain begitu keras kepala.

 

Diakhir kunjungan kami berpamitan. Bapak ini menjabat tangan saya begitu kuat, seolah ada sebuah keyakinan yang tidak tergoyahkan disana. Tangan saya hanya meresponnya lemah, tapi darinya saya kemudian teringat satu hal. Teringat seorang teman yang sedikit banyak mirip ‘guru spiritual’ saya. Teringat perkataannya yang mungkin benar; bahwa kebohongan yang dilakukan berulang-ulang suatu saat akan menjelma menjadi sebuah kebenaran. Barangkali benar, bahwa manusia itu mahkluk yang lemah dan oleh karenanya sepanjang hidup akan selalu membutuhkan pegangan. Barangkali benar.


Posted at 03:48 pm by ErmandarA
Comment (1)  

Monday, January 11, 2010
Mesin Waktu

Nostalgia adalah rasa pedih yang paling mulia, rasa pedih yang paling dirindukan. Inilah mengapa kita selalu harus menyiapkan cukup mental untuk kembali ke tempat di mana kita banyak menciptakan cerita.

 

Dan nanti, biarlah beberapa cerita hanya kita yang punya, sedikit untuk buku diary yang masih kita simpan kunci gemboknya, sedikit untuk dibagikan di blog pribadi kelak, sedikit kita ceritakan untuk anak-cucu, sedikit untuk dilupakan saja, sedikit lagi mungkin kita bawa sampai mati dan menjadi misteri kehidupan untuk selamanya.


Posted at 02:47 pm by ErmandarA
Comments (2)  

Tuesday, December 22, 2009
Tentang Kemiskinan Hidup Mahasiswa: aspek psikologi (dan ekonomi!)

Pukul 11.30 siang hari jum'at di sebuah teras berbahan kayu jati seratus meter dari masjid di wilayah adat kampung dukuh. Muadzin baru saja selesai menyuarakan adzan, adzan pertama dari tiga adzan yang biasanya dikumandangkan masjid tiap waktu shalat. Langit desember tak sekelabu biasanya disini, sekitar dua puluh orang laki-laki dari rombongan kampus saya iring-beriringan menuju masjid. Mereka berjemaah dan sementara itu disebelah saya seorang urakan, berambut sebahu, berkacamata over-size, memakai flannel biru sedang meracau kepada beberapa teman-temannya yang masih menunggu hingga adzan ketiga untuk mengambil air wudlu.

Ia Jarwo, mahasiswa tahun pertama dengan darah betawi murni, berumur 20 tahun, yang pindah ke jatinangor untuk berkuliah di jurusan yang sama dengan saya, namun malah menemukan dirinya sedang berada di persimpangan. "gw gak sholat karna gw ngerasa lagi kosong" katanya, dengan yakin di depan beberapa temannya yang diam-diam merasakan hal yang serupa.

Di jatinangor, tempat kebanyakan dari orang-orang ini tinggal, sebenarnya tidaklah terlalu aneh mendapati obrolan seperti ini setiap harinya, tentu seiring hari telah malam dengan botol-botol alkohol berserakan, dan candaan mulai berganti dengan kegalauan. Saya sendiri tadinya mempunyai belasan video amatir yang saya rekam menggunakan digicam pada momen seperti ini, momen favorit bila para perempuan sedang tidak bersemangat. Menjadi aneh adalah karena rombongan ini sedang ada di kampung dukuh, salah satu desa adat terakhir di jawa barat, yang mempunyai tradisi islam mistik yang kuat. Tidak ada alkohol disini, dan seingat saya kami semua baru saja terlihat riang dalam perjalanan menuju ke kemari.

Tapi apa sebenarnya keriangan itu? mengapa tiba-tiba di sebelah saya sekelompok anak muda berbeda agama yang beberapa bahkan belum berusia 20 tahun berfilsafat dan bercerita tentang kekosongan mereka dalam menjalankan ritual agama di tengah hari bolong lengkap dengan kaos band indie-pop­, i-pod dan kamera SLR yang seharusnya  merupakan alat untuk bersenang-senang? seiring orbrolan berjalan sayup-sayup terdengar beberapa menentukan pilihannya, beberapa gamang, beberapa mulai mempelajari agama Buddha, beberapa tetap ikhtiar sampai menemukan pencerahan, beberapa mungkin akan kafir untuk selamanya.

Entahlah, saya tidak menemukan jawaban apa keriangan itu sampai tujuh kulit pisang terkumpul, tertawa-tawa sambil sesekali membalas dengan senyuman andalan bila tiba-tiba ada yang mulai menoleh ke saya. Seperti dosen dan teman-teman angkatan, mereka sedikit banyak juga tahu tentang saya sehingga tidak perlu lagi berbasa-basi ria menyuruh ke masjid. Cenderung ingin mendengar saya berkomentar, saya hanya tertawa-tawa sambil diam-diam mengumpat dalam hati; sial, pisangnya habis.

Posted at 03:56 pm by ErmandarA
Comments (2)  

Sunday, October 25, 2009
Ikarus

Pada suatu hari, Ikarus, yang terpenjara di Pulau Kreta, ingin melarikan diri melalui udara, terbang. Ayahnya, Daedalus, seorang penemu, membuatkannya sayap. Bulu-bulu garuda pun dihimpun dan ditata, dan akhirnya sepasang sayap buatan besar pun jadi, direkatkan dengan lilin ke tubuh si anak. Ia terbang. Tapi ia terbang terlalu tinggi, mendekati matahari. Lilin itu pun meleleh oleh panas surya, dan sayap buatan itu tanggal, dan Ikarus jatuh ke bumi, ke laut Aegea. Ia tenggelam.

 

Mitologi Yunani tak sekali-kali menceritakan apa yang terjadi begitu tubuh Ikarus terhempas ke permukaan ombak. Tapi pada tahun 1555 seorang perupa Belanda melukis adegan itu. Dalam Lanskap dengan Kejatuhan Ikarus, sang empu tak memaparkan sebuah kecelakaan yang menyedihkan ataupun sebuah peristiwa yang dramatik. Justru sebaliknya.

 

Di kanvasnya, yang tampak adalah sebuah pemandangan pastoral, cerah dan penuh warna. Pagi musim semi, dengan seorang petani penggaru ladang. Seorang penggembala, seraya bersandarkan pada tongkat, tampak melihat ke langit yang jernih. Anjingnya duduk sabar, memantau beberapa belas domba yang asyik mencari makan. Sedikit di kanan, tampak seseorang yang sedang memandangi kapal yang berlayar di laut hijau Aegea yang tak diguncang ombak. Di dekat kapal itulah, di permukaan yang praktis tanpa gelombang, tampak sepasang kaki menggelepar di air—sepasang paha dan betis yang memutih sebentar sebelum tenggelam. Itulah tubuh Ikarus yang malang.

 

Kanvas ini seakan mengatakan; hidup yang normal tampaknya tak terguncang oleh nasib seseorang yang tengah terbanting dan direnggut Maut. Bahwa yang terjadi bukanlah sebuah tragedi, melainkan sesuatu yang lucu seperti badut yang tergelincir kulit pisang? sebuah jiwa jadi tak berharga selama hidup kita masih tenang tanpanya. Kanvas ini hampir tanpa emosi, sebuah guratan terhadap tragedi yang dibiarkan berlalu tanpa arti.

 

Mengapa saya tiba-tiba putis begini? nafas saya melambat, hasil dan akibat dari hanya mengurung diri beberapa hari. Di tempat dengan kesempatan bersenang-senang setiap malam seperti tempat saya tinggal sekarang ini, sedikit menjauhinya memberikan efek yang lumayan hebat. Saya pasti akan kembali, meski tidak dalam waktu dekat ini. Saya hanya sedang menentukan prioritas kan?

 

Mungkin bagi Brueghel sang pelukis, nasib malang Ikarus, kisah seorang anak muda yang terbang dan tak sampai, adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang tak perlu dihiraukan: persis seperti jutaan anak muda yang sejak beratus-ratus tahun lalu menuntut perubahan pada masyarakatnya; 1871, 1917, 1921, 1945, 1968, 1994, 1999, 2001, 2007, 2009 dan sampai nanti sistem ekonomi bangsat ini mati. Persis seperti petuah-petuah intelektual kampus anjing-edan yang tak juga mengerti dengan kegiatan "tanpa-perhitungan-oh-sungguh-tak-berguna-nan-membuang-masa-muda" saya yang sering bersinggungan dengan aktivitas-aktivitas "ilmiah-bebas-nilai-nan-netral" kebanggaan mereka.

 

Ikarus, yang dianggap sebuah contoh kesia-siaan manusia yang takabur dan lupa berhati-hati. Maka bila ia terjerembap dan mati, biarlah. Ikarus, yang tak juga mengerti bahwa hidup lebih baik dijalani dengan kenikmatan yang sudah ada, seperti penggembala yang mensyukuri musim yang jernih. Atau lebih baik hidup ditempuh dengan kerja yang jujur, dengan membajak bumi dan mengarungi laut. Kenapa Ikarus tak meniru penggaru yang tekun, penggembala yang sabar, dan saudagar yang makmur di kapal itu? Kenapa ia harus melanggar kodrat manusia yang sudah ditetapkan, yakni bahwa dia bukan unggas?


Dan barangkali apabila saya bisa melukis, saya pasti akan meneruskan cerita tersebut  dengan cerita dari Ikarus bahwa dia, orangtua itu yang memberi jawaban. Dia yang telah menjadi terlalu tua, lamban dan terkadang menjadi penakut dan tak sesemangat kami. Dia, yang membuatkan sayap palsu dengan lilin yang akan terbakar di panas matahari untuk anaknya. Dialah yang berkata "terbanglah nak, terbang. Aku bukan seorang bijak, aku juga tak benar-benar tahu apa itu takdir. Namun tak inginkah kau mencoba melihat dunia di luar sana yang sama sekali berbeda? Satu hal yang aku tahu benar sejak dahulu adalah bahwa diantara rerumputan hijau peladang dan sinar matahari yang kita lihat tiap pagi, diantara merdunya suara deburan ombak yang mengantar kita terlelap tiap malamnya, adalah kenyataan pahit bahwa kita semua hidup dalam penjara. Dengan restuku terbanglah, kepakan sayapmu dan tantanglah mentari oh malaikat kecilku…."

 

Ikarus akhirnya terjerembab dan mati. Tak apa, setidaknya dia telah mencoba dan menjalani hidup yang dia yakini. Satu lagi anak muda yang mati. Sang peladang dan penggembala miris, meratapi nasib mereka sendiri. Hanya orangtua itu yang sedih sekaligus tersenyum. Ada satu hal yang akhirnya dia pelajari: buat lilin dan sayap yang lebih kuat melawan panas mentari.

Posted at 02:34 pm by ErmandarA
Comment (1)  

Next Page