Photobucket


"huf..., at least I know I got unfinished business to settle in this world, and I can’t just walk away…"



   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Sunday, October 25, 2009
Ikarus

Pada suatu hari, Ikarus, yang terpenjara di Pulau Kreta, ingin melarikan diri melalui udara, terbang. Ayahnya, Daedalus, seorang penemu, membuatkannya sayap. Bulu-bulu garuda pun dihimpun dan ditata, dan akhirnya sepasang sayap buatan besar pun jadi, direkatkan dengan lilin ke tubuh si anak. Ia terbang. Tapi ia terbang terlalu tinggi, mendekati matahari. Lilin itu pun meleleh oleh panas surya, dan sayap buatan itu tanggal, dan Ikarus jatuh ke bumi, ke laut Aegea. Ia tenggelam.

 

Mitologi Yunani tak sekali-kali menceritakan apa yang terjadi begitu tubuh Ikarus terhempas ke permukaan ombak. Tapi pada tahun 1555 seorang perupa Belanda melukis adegan itu. Dalam Lanskap dengan Kejatuhan Ikarus, sang empu tak memaparkan sebuah kecelakaan yang menyedihkan ataupun sebuah peristiwa yang dramatik. Justru sebaliknya.

 

Di kanvasnya, yang tampak adalah sebuah pemandangan pastoral, cerah dan penuh warna. Pagi musim semi, dengan seorang petani penggaru ladang. Seorang penggembala, seraya bersandarkan pada tongkat, tampak melihat ke langit yang jernih. Anjingnya duduk sabar, memantau beberapa belas domba yang asyik mencari makan. Sedikit di kanan, tampak seseorang yang sedang memandangi kapal yang berlayar di laut hijau Aegea yang tak diguncang ombak. Di dekat kapal itulah, di permukaan yang praktis tanpa gelombang, tampak sepasang kaki menggelepar di air—sepasang paha dan betis yang memutih sebentar sebelum tenggelam. Itulah tubuh Ikarus yang malang.

 

Kanvas ini seakan mengatakan; hidup yang normal tampaknya tak terguncang oleh nasib seseorang yang tengah terbanting dan direnggut Maut. Bahwa yang terjadi bukanlah sebuah tragedi, melainkan sesuatu yang lucu seperti badut yang tergelincir kulit pisang? sebuah jiwa jadi tak berharga selama hidup kita masih tenang tanpanya. Kanvas ini hampir tanpa emosi, sebuah guratan terhadap tragedi yang dibiarkan berlalu tanpa arti.

 

Mengapa saya tiba-tiba putis begini? nafas saya melambat, hasil dan akibat dari hanya mengurung diri beberapa hari. Di tempat dengan kesempatan bersenang-senang setiap malam seperti tempat saya tinggal sekarang ini, sedikit menjauhinya memberikan efek yang lumayan hebat. Saya pasti akan kembali, meski tidak dalam waktu dekat ini. Saya hanya sedang menentukan prioritas kan?

 

Mungkin bagi Brueghel sang pelukis, nasib malang Ikarus, kisah seorang anak muda yang terbang dan tak sampai, adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang tak perlu dihiraukan: persis seperti jutaan anak muda yang sejak beratus-ratus tahun lalu menuntut perubahan pada masyarakatnya; 1871, 1917, 1921, 1945, 1968, 1994, 1999, 2001, 2007, 2009 dan sampai nanti sistem ekonomi bangsat ini mati. Persis seperti petuah-petuah intelektual kampus anjing-edan yang tak juga mengerti dengan kegiatan "tanpa-perhitungan-oh-sungguh-tak-berguna-nan-membuang-masa-muda" saya yang sering bersinggungan dengan aktivitas-aktivitas "ilmiah-bebas-nilai-nan-netral" kebanggaan mereka.

 

Ikarus, yang dianggap sebuah contoh kesia-siaan manusia yang takabur dan lupa berhati-hati. Maka bila ia terjerembap dan mati, biarlah. Ikarus, yang tak juga mengerti bahwa hidup lebih baik dijalani dengan kenikmatan yang sudah ada, seperti penggembala yang mensyukuri musim yang jernih. Atau lebih baik hidup ditempuh dengan kerja yang jujur, dengan membajak bumi dan mengarungi laut. Kenapa Ikarus tak meniru penggaru yang tekun, penggembala yang sabar, dan saudagar yang makmur di kapal itu? Kenapa ia harus melanggar kodrat manusia yang sudah ditetapkan, yakni bahwa dia bukan unggas?


Dan barangkali apabila saya bisa melukis, saya pasti akan meneruskan cerita tersebut  dengan cerita dari Ikarus bahwa dia, orangtua itu yang memberi jawaban. Dia yang telah menjadi terlalu tua, lamban dan terkadang menjadi penakut dan tak sesemangat kami. Dia, yang membuatkan sayap palsu dengan lilin yang akan terbakar di panas matahari untuk anaknya. Dialah yang berkata "terbanglah nak, terbang. Aku bukan seorang bijak, aku juga tak benar-benar tahu apa itu takdir. Namun tak inginkah kau mencoba melihat dunia di luar sana yang sama sekali berbeda? Satu hal yang aku tahu benar sejak dahulu adalah bahwa diantara rerumputan hijau peladang dan sinar matahari yang kita lihat tiap pagi, diantara merdunya suara deburan ombak yang mengantar kita terlelap tiap malamnya, adalah kenyataan pahit bahwa kita semua hidup dalam penjara. Dengan restuku terbanglah, kepakan sayapmu dan tantanglah mentari oh malaikat kecilku…."

 

Ikarus akhirnya terjerembab dan mati. Tak apa, setidaknya dia telah mencoba dan menjalani hidup yang dia yakini. Satu lagi anak muda yang mati. Sang peladang dan penggembala miris, meratapi nasib mereka sendiri. Hanya orangtua itu yang sedih sekaligus tersenyum. Ada satu hal yang akhirnya dia pelajari: buat lilin dan sayap yang lebih kuat melawan panas mentari.

Posted at 02:34 pm by ErmandarA
Make a comment  

Monday, September 28, 2009
Arus! Pendek! Listrik!

Mungkin otak saya sudah terlalu bebal untuk sedikit sensitif dan mengaitkan kejadian "arus pendek listrik" yang terjadi menjelang lebaran yang mengakibatkan terbakarnya pasar-pasar tradisional, dengan munculnya square-square atau mall-mall penggantinya tiap tahunnya. Baru kemarin saya sadar ketika sebuah pasar tradisional terbakar di daerah jatinangor. Setelahnya para pedagang "direlokasi" di tempat baru. Saya hanya sadar ketika mereka telah melakukan lelucon terlalu jauh: menempatkan para pedagang di lantai dasar dengan mengatakan semua pengunjung akan ke sana terlebih dahulu sebelum mengelilingi mall, sedangkan dari rancang bangunnya ekskalator utama langsung menuju ke lantai dua. Bukan tempat relokasi melainkan kios-kios baru untuk pedagang-pedagang yang jauh lebih besar. Persis sama dengan yang terjadi kepada salah satu keluarga saya yang kiosnya terbakar 2 bulan ramadhan yang lalu dan kini terpaksa harus membayar iuran bulanan untuk melunasi kios baru di tempat bernama 'Pasar Baru Square'.

Diantara ingatan saya akan puluhan pasar tradisional yang terbakar di seluruh pulau jawa ramadhan tahun ini, seorang anggota DPR yang duduk tepat di sebelah saya di Boeing 737 yang terbang ke Kalimantan ini mulai bercerita bahwa masalah utama pembangunan di kota minyak ini hanyalah masalah listrik. Pemetaan wilayah sudah dirancang kabarnya. Dan, bila nanti masalah listrik ini sudah teratasi, tinggal menunggu waktu saja bagi pasar-pasar tradisional yang kini masih berada didaerah pesisir laut itu untuk habis terbakar. Entah kapan, yang jelas di bulan ramadhan menjelang lebaran. Cepat atau lambat.

 

Posted at 08:55 pm by ErmandarA
Make a comment  

Tuesday, August 04, 2009
Wahyu

—untuk Abdulkarim dan grup pengajian al-Isytirakhiyyah

 

 

“I am nothing and I should be everything”

—Karl Marx pada pengantar 'Contribution to the critique of Hegel’s  philosophy of law’

 

Sudah Juli lagi. Dua tahun yang lalu ada sebuah celah di ingatan saya ketika berkenalan dengan seorang kawan baru yang dengan sedikit basa-basi saya ingin pinjam buku-buku milik Situationist International-nya. Buku yang saat itu sama sekali saya belum benar-benar tahu apa isinya selain informasi dan review-review hebat atas buku ini yang membuat penasaran. Review buku yang begitu canggihnya sampai saya merasa akan sungguh paham akan dunia ketika selesai membacanya. Begitulah. Permintaan yang pada kesempatan pertama langsung ditolak oleh sang empu pemilik buku. Mengecewakan pastinya, terutama untuk orang yang baru saja berkenalan. Saya hanya sedikit riang dipinjami dua buku lainnya. Diperjalanan pulang saya juga memikirkan penyebabnya, sang kenalan baru ini beralasan bahwa buku-buku itu banyak memakai konsep-konsep marxis, sesuatu yang dengan tanpa bertanya dia anggap kurang saya pahami. Saya juga tidak bisa membantah, saya memang kurang akrab dengan Marx, kurang cukup keren sebenarnya. Pengalaman terakhir saya membaca Marx berakhir buruk. Saya mendapat buku  berjudul Brumaire XVII Louis Bonaparte dengan kualitas terjemahan sungguh jelek yang langsung membuat saya menyerah pada kesempatan pertama. Menyerah meninggalkan beberapa teman saya yang justru sedang giat-giatnya membaca Marx lewat buku Franz Magnis-Suseno yang sedang populer. Saya ingin membaca Marx, bukan Romo Magnis-Suseno pikir saya waktu itu.

 

Rasa-rasanya baru kemarin juga saya akhirnya memutuskan berkenalan dengan Abdulkarim al-Isytirakhiyyah, seorang bekas santri yang menurut sang kenalan baru akan banyak membantu dalam memahami Marx. Saya setuju saja dengannya, demi mendapat pinjaman buku SI saya meneguhkan hati. Berkenalan dan sedikit berbincang dengan sang santri. Biasa saja, pada awalnya.

 

****

Sudah Juli lagi. Beberapa hari yang lalu pertemuan-pertemuan ini selesai sudah. Pertemuan yang secara tertulis hanya terjadi sepuluh kali. Petualangan mega yang efeknya bisa sejauh ini. Petualangan sepuluh pertemuan dengan memakan waktu lebih dari dua belas bulan. Saya dan seorang teman yang lain mengakhirinya dengan cukup baik. Bukan akhir sebenarnya, saya bahkan merasa belum memulai sama sekali. Buku tebal itu, juga belum selesai saya tamatkan. Buku yang bolak-balik saya pinjam setelah mendapati ternyata telah habis terjual. Al-Isytirakhiyyah juga, akan terus saya tagih ikut dalam pengajian-pengajian lainnya. Bab I begitu sulit dilewati, teori nilai kerja bahkan belum saya mengerti sama sekali.          

 

Sudah Juli lagi, kini saya kembali mengingat janji untuk membaca SI, janji yang entah kapan akan saya tepati.

 

Sudah Juli lagi. grup pengajian ini sejak awal tidak menawarkan banyak. Saya juga tidak mendapat banyak. Mereka hanya memberi satu hal yang dengan teramat dalam mereka tanamkan. Bukan, ini juga bukan pengetahuan para intelektual yang hanya didapat dari buku dan teks. Ini adalah pengetahuan dalam darah yang kini sudah menemukan tulang dan daging-dagingnya. Satu hal yang akhirnya saya paham. Bellum omnium contra capitalismus. Terimakasih, sudah buat saya jadi manusia lagi

 

 

Posted at 01:58 am by ErmandarA
Comments (2)  

Tuesday, June 09, 2009
Tengah - sunrise

Segelas teh manis favorit menemani saya menikmati matahari terbit pagi ini. Yang saya maksud benar-benar sebuah pemandangan matahari terbit yang muncul dari kejauhan laut. Tanpa halangan awan apalagi gedung-gedung bertingkat perkotaan. Yang ada hanya cahaya jingga matahari, bukit-bukit kecil, langit biru, dan desiran angin laut pagi. Beruntunglah mahkluk-mahkluk pagi seperti saya, lagipula dengan suasana hati yang seperti sekarang, Sunrise memang lebih bisa saya nikmati. Bagi saya sendiri itu berarti sebuah tawa, optimisme, pencerahan, keriangan, semangat dan harapan baru. Sebuah afirmasi hidup singkatnya —sebuah Sunrise.

Pantai timur pangandaran, 22 Mei 2009/Pkl.06.02 wib

Posted at 06:59 pm by ErmandarA
Make a comment  

Tengah - tawa

Bertiga seperti biasa dengan Giyas dan Lintang, saya menghabiskan malam kedua ini dengan berkumpul bersama mereka, di pinggir pantai tentunya. Setelah seharian yang melelahkan, dimulai dengan bertarung dengan ombak di pagi hari, berkeliling di kampung nelayan di siang hari, dan ber-snorkeling mengintip terumbu karang sore hari di pasir putih—tempat yang sama sekali tidak saya kira ada di dekat pengandaran—kami memilih beristirahat malam harinya. Sekedar menghabiskan waktu dengan duduk di pinggir batu-batu pemecah ombak sambil meneguk sedikit alcohol yang cukup untuk menghangatkan badan. Cukup lama kami bertiga tidak berbagi momen seperti ini, kami bertiga memang tidak bertemu sesering dulu. Cukup lama meskipun tidak cukup lama untuk membuat saya keliru ke mana arah pembicaraan ini akan mengarah…

Lintang kembali bercerita, mengeluh dan melenguh. Dia sepengingatan saya adalah seorang teman yang mempunyai masalah personal terbanyak dan terumit dalam hidupnya. Entahlah, setiap orang memang mempunyai masalah pribadinya sendiri, tapi semua cerita yang pernah saya dengar tidak pernah ada yang serumit masalah yang dihadapinya. Sempat terpikir oleh saya untuk menceritakan setiap cerita yang terjadi padanya, namun daripada ditulis untuk sebuah blog pendek, ceritanya lebih cocok untuk dibuat dalam bentuk buku berseri dengan alur cerita yang jauh lebih dramatis dan tolol dari semua gabungan sinetron Indonesia. masalah-masalahnya terlalu pelik, aneh, ajaib, dramatis, rumit, kompleks, sedih, gila, depresif, kelam bahkan liar untuk ditulis. Hampir-hampir seperti cerita bualan dari negeri dongeng yang tidak bisa kamu percaya sampai kamu mendengarnya sendiri. Dan yang lebih aneh lagi bagi saya adalah mengapa harus saya yang sampai berjodoh bersimpang jalan dengannya, menjadi kawannya, dan harus menjaga banyak dari ceritanya untuk tetap menjadi sebuah rahasia bagi kami bertiga mungkin sampai mati. Miris memang, tapi orang-orang seperti dia jugalah sebenarnya yang beberapa bulan terakhir membuat saya menjadi lebih kuat dan menjadi seriang mungkin kepada siapapun. Dia dan beberapa teman lain yang juga terus-menerus mencurahkan aibnya dan berharap saya bisa mentransformasikannya menjadi sebuah rahasia abadilah yang membuat saya tidak mempunyai alasan lagi untuk terlihat sok murung dan gelap ala nuansa band post-rock kekinian. Lagipula di tengah dunia yang memang menawarkan banyak kemurungan dan kekosongan, apalagi yang bisa saya tawarkan selain tawa dan keriangan?

Pantai timur pangandaran, 22 Mei 2009/Pkl.23.50 wib

Posted at 06:56 pm by ErmandarA
Make a comment  

Monday, June 01, 2009
Tengah – materialisme historis harian

Ada tawaran menarik malam ini. Seorang warga lokal mengajak beberapa orang dari rombongan untuk melihat-lihat ritual rutin warga sekitar di sebuah gua yang letaknya di dalam hutan lindung sebelah utara pangandaran. Kebetulan, malam ini adalah hari kamis malam jum’at kliwon dalam penanggalan Jawa. Hari seperti ini adalah hari yang diyakini merupakan malam-malam “spesial” bagi kebanyakan penduduk pulau Jawa. Malam keramat sebutannya. Saya tidak pernah begitu tahu detailnya, yang saya tahu dari dulu hanya bahwa malam-malam seperti ini merupakan malam-malam yang kuat aura mistiknya, mistik dalam artian adanya kekuatan-kekuatan lain di luar dunia materiil yang menampakkan dirinya dan punya pengaruh kuat terhadap apa yang berjalan di dunia materiil dan dengan demikian perlu dilakukan ritual untuk menyelaraskannya dengan keinginan manusia. Mungkin saya salah, entahlah, saya juga tidak pernah membaca dan mempelajari satupun teks-teks yang berkaitan dengan hal itu. Yang saya paham dari dulu cuma satu, yaitu bagaimana pengglorifikasian dari hal-hal gaib seperti itu masih ada di sekitar saya dan seringkali berujung dengan kekesalan saya.

Tempat yang dituju adalah sebuah gua yang berada di dalam hutan cagar alam sebelah utara pengandaran. Menurut sang warga, di malam jum’at kliwon seperti ini akan dilakukan ritual oleh seorang dukun yang sudah kerasukan roh gaib dengan cara memanggil arwah leluhur di gua tersebut. Setelah ritual tersebut, nantinya siapapun yang masuk ke dalam gua yang dipenuhi air tawar sebatas dada itu dan menemukan batu di ujung gua, akan dikabulkan permintaannya dalam bentuk apapun. Cukup menyeramkan tentunya, berbekal cerita—adanya bau sirih secara tiba-tiba ketika seorang teman yang memakai baju hijau (warna terlarang di pantai pangandaran) saat berfoto mendekati laut—pada siang harinya, ditambah dengan hari yang sudah begitu gelap cukup bisa membuat nyali saya, Giyas, dan Lintang cukup ciut. Sepengamatan saya kami bertiga memang bukan orang yang bisa takut dengan hal seperti ini, kami bertiga jelas-jelas lebih takut dengan preman-preman terminal yang berbadan besar dengan mulut berbau minuman keras cap “intisari”. Tapi memang suasananya malam ini terbangun demikian, ditambah beberapa perempuan lainnya yang bersikeras ikut meskipun takut, maka perjalanan horror kami malam ini dimulai.

Sepanjang perjalanan melewati hutan cagar alam yang gelap gulita keadaan rombongan berubah total, kebanyakan berpegangan tangan satu sama lain, sedekat mungkin dengan yang lain, dan mulai menjaga omongan. Untuk menenangkan diri saya berusaha tetap bercanda dengan Giyas, menertawakan sendiri teman serombongan, dan menduga-duga bagaimana rupa sang mahkluk gaib nantinya dengan refrensi dari tayangan-tayangan mistik yang sempat ramai di TV beberapa tahun belakang. Salah satu dosen yang ikut bahkan sampai mengingatkan kepada rombongan untuk tidak berkata sompral. Yang cukup mengagetkan saya malah seorang ucapan teman yang menegur saya; “ih, jaga omongan, saya aja sampai gak berani ngomong gitu”. Begitu saya mulai dianggap keterlaluan dan melecehkan “penghuni” hutan ini. Hal yang aneh bagi saya karena selama ini dia dikenal sebagai seorang yang begitu gemar membaca ratusan buku filsafat dan cukup ahli dalam bidang teoritis feminisme dan post-modernisme. Kemana larinya semua rasionalitas ala filsuf pencerahan yang sering dia umbar? yah, seharusnya saya tidak terlalu terkejut semenjak seorang revolusioner tua dulu pernah berkata bahwa para filsuf memang paling ahli dalam menafsirkan dunia tapi tidak berbuat apapun untuk mengubahnya.

 

Sampai di lokasi keadaannya agak aneh. Tidak ada ritual mistik, tidak ada dukun yang kerasukan roh, dan tidak ada bau dupa atau kemenyan. Yang ada hanya penjual jajanan seperti rokok, kacang, dan kopi, wartawan yang membawa kamera SLR dengan lensa super panjang, pria paruh baya yang “mencari jodoh” sambil duduk-duduk di tikar yang sudah disediakan, beberapa PSK yang mencari penglaris dan puluhan anak muda bermotor yang mengantri untuk ikut masuk ke dalam Gua. Saya sempat kaget ketika Giyas dan seorang lagi dari rombongan bahkan benar-benar masuk ke dalam gua setelah melepas baju. Semua orang was-was menunggu mereka berdua keluar. Tidak sabar mendengar pengalaman gaib yang mereka dapatkan didalam. Setelah sekitar 10 menit, mereka berdua keluar. Disambut bak pahlawan giyas langsung bercerita:

 

“busyet, gelap banget didalam, batu guanya tajam-tajam. Gak sampe ujung gua, gelap gitu, trus airnya tambah dalam. Yang jelas ngga ada apa-apa, anak-anak yang di dalam malah becanda-candaan, maenan. Mana mulut mereka bau anggur semua lagi. Kecewa gua”

Saya hanya tersenyum kecil. Semua orang hanya terdiam dan tidak lama kemudian memutuskan pulang, kali ini dengan suasana yang lebih ceria. Tidak ada setan, genderuwo, pocong atau yang lainnya. Entahlah, mungkin saya kurang beruntung. Tapi yang jelas saya sedikit senang karena sehabis ini tidak akan ada lagi cerita-cerita pathetic  tentang hal-hal tidak penting seperti tadi siang sepanjang sisa liburan ini yang seharusnya menyenangkan.

Diluar ini semua, faktanya saya bukannya tidak suka dengan ritual-ritual mistis yang dipercayai oleh warga sekitar. Bagi saya dari sisi asalinya hal-hal itu malah merupakan salah satu cara bagaimana mereka menjaga relasi-relasi mereka dengan alam. Hal itu merupakan warisan lampau di mana manusia masih hormat kepada alam dan membina sebuah hubungan yang harmonis dengannya. Yang jadi masalah bagi saya adalah bagaimana hal-hal tersebut kini sering diglorifikasi oleh orang-orang perkotaan dan mengaitkannya dengan hidup harian yang sama sekali tidak ada hubungannya dan juga seperti segala sesuatu di sistem ini; diubah menjadi komoditi.

Anyway seperti jawaban saya semenjak awal kepada seorang teman yang bertanya apakah saya percaya atau tidak hal-hal gaib seperti ini, setelah malam ini jawaban saya tetap sama:

“gua jelas-jelas ngga bisa ngebuktiin kalo hal gituan ada, tapi gua juga ngga bisa ngebuktiin kalo hal kayak gitu beneran ngga ada juga. Gua cuma ngga peduli kok. Lagian yang kayak ginian dari dulu emang ngga ada kaitannya sama idup kita tiap harinya kan? .”

Cagar Alam Pangandaran, 22 Mei 2009/Pkl.01.25

Posted at 09:11 pm by ErmandarA
Make a comment  

Monday, May 25, 2009
Awal

Ini hari pertama saya di Pangandaran, sama sekali bukan salah satu dari rencana perjalanan liar yang saya canangkan. Saya ada disini karena tuntutan dari materi perkuliahan yang meminta penelitian lapangan di salah satu mata kuliah. Menyebalkan pastinya, segala sesuatu yang berhubungan dengan perkuliahan memang selalu membuat saya kesal, tapi dibanding dengan perkuliahan dalam kelas yang selalu berhasil memaksa saya untuk duduk diam dan hanya mendengarkan ceramah dosen, kuliah lapangan ini masih lebih baik. Berbekal beberapa potong pakaian, uang 60 ribu rupiah, kamera digital, dan sebuah buku The Hedonism Handbook karya Michael Flocker. Berdua dengan giyas—seorang teman saya yang bahkan hanya membawa uang 8 ribu rupiah—kami berdua bertekad mendapat kesenangan sebesar-besarnya dalam perjalanan ini dan sama sekali mengabaikan tuntutan penelitian. Dimulai dengan video amatir yang kami buat, Giyas menutup rekaman itu dengan optimis;

“gw berfirasat kita akan berbahagia disana, euphoria yang mendalam”

****

Selalu ada suasana yang berbeda setiap kali saya berada di dekat laut. Entah, meskipun pantai tersebut tidak seindah yang sering saya lihat di layar televisi, mungkin pantainya tidak selandai yang ada di kuta, pasirnya tidak putih dan airnya tidak sejernih yang ada di karibia, ombaknya bukan idola para surfer seperi yang ada di Australia, tidak seramai yang ada di California, ataupun tidak banyak wanita berbikini seperti di brazil. Namun, selalu saja ada sesuatu yang hampir-hampir mistis yang menyelimuti benak saya ketika berada di sana. Hanya dengan mendengarkan deburan ombak dan merasakan semilir angin yang berhembus sudah cukup untuk memaku saya sekedar duduk terdiam dan tersenyum sendirian menikmati momen. Saya bukan sedang menikmati alam sambil bersyukur dan takjub bagaimana hebatnya jika memang dia diciptakan dan berjalan dalam keteraturan. Saya juga bukan sedang mengutuki orang-orang yang terus-menerus merusaknya. Bukan, saya hanya sekedar menikmati momen-momen lampau yang telah terjadi di sekitar saya, mengingat orang-orang yang pernah datang dan pergi di sekitar saya dan hal-hal bodoh yang pernah saya lakukan. Saat-saat seperti inilah yang sangat saya nikmati bila sedang sendirian di pinggir pantai. Lagipula, saya tidak pernah memohon-mohon kepada para perusak itu untuk berhenti dengan kesadaran mereka kok, mereka tidak akan pernah bisa kan?

Pantai barat pangandaran, 21 Mei 2009/Pkl.21.11 wib

Posted at 09:02 pm by ErmandarA
Make a comment  

Monday, March 30, 2009
For You (you know who you are)

"...Benjamin, kita ditakdirkan untuk kehilangan orang-orang yang kita cintai

jika tidak, bagaimana kita tahu mereka penting untuk kita ?"


Nn. Rousseau, The Curious Case of Benjamin Button

 

Posted at 04:06 pm by ErmandarA
Make a comment  

Next Page